Jumat, 02 Oktober 2026

Menkes Budi Tekankan Empat Prinsip Kepemimpinan di Health Leadership Course ADB

Jumat, 02 Oktober 2026 10:45 WIB
Menkes Budi Tekankan Empat Prinsip Kepemimpinan di Health Leadership Course ADB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka Health Leadership Course yang diselenggarakan ADB di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka Health Leadership Course yang diselenggarakan Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, pada 28 September 2026.

Dilansir dari laman Kemkes, pelatihan yang diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara di Asia Tenggara tersebut digelar untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi berbagai tantangan serta mendorong reformasi sistem kesehatan di kawasan.

Dalam kesempatan tersebut, Menkes Budi menyampaikan empat prinsip yang menurutnya penting dimiliki seorang pemimpin, yakni integritas, kemampuan menyampaikan tujuan secara sederhana, kemampuan storytelling, dan kemampuan eksekusi.

Menurut Budi, integritas menjadi fondasi utama seorang pemimpin. Pemimpin harus dapat dipercaya dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh organisasi maupun negara.

"Pertama, atasan terbaik yang pernah saya temui adalah seseorang yang memiliki integritas. Untuk memastikan bahwa dia tidak akan membohongi Anda atau negara Anda, dia harus menjadi pribadi yang berintegritas," ujar Budi.

Selain integritas, seorang pemimpin harus mampu menyampaikan tujuan secara jelas dan sederhana agar dapat dipahami oleh seluruh anggota organisasi.

"Sebagai pemimpin, Anda harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan tujuan Anda secara jelas dan sederhana agar semua orang dapat memahaminya," katanya.

Budi menjelaskan, tujuan tersebut kemudian harus diterjemahkan ke dalam langkah kerja yang konkret. Di Kementerian Kesehatan, agenda reformasi kesehatan dilakukan melalui enam pilar, yakni reformasi layanan primer, layanan sekunder atau rumah sakit, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta teknologi kesehatan.

Keenam pilar tersebut diarahkan untuk meningkatkan angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat masyarakat. Salah satu bentuk penguatan layanan primer dilakukan melalui dukungan pembiayaan ADB untuk pengadaan 10.000 USG dan 10.000 X-ray.

Budi juga menilai kemampuan storytelling penting bagi seorang pemimpin. Menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya menyampaikan target, tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan, proses, dan langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan.

Kemampuan eksekusi menjadi prinsip berikutnya yang ditekankan Budi. Menurutnya, target dan rencana tidak akan memiliki arti apabila tidak diikuti kemampuan untuk merealisasikannya.

"Jika Anda hanya berbicara dan memiliki target tetapi tidak menunjukkan cara mengeksekusi dan mencapainya, Anda akan kehilangan kredibilitas di depan anggota Anda," ujarnya.

Director Human and Social Development Sector Office ADB Eduardo Banzon mengatakan negara-negara berkembang perlu menjadi pihak yang menentukan arah reformasi kesehatan di negaranya masing-masing.

Menurut Eduardo, ADB memberikan dukungan pembiayaan dan teknis terhadap agenda yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara.

"Kami bukanlah jenis institusi yang datang dan mendikte suatu negara untuk 'lakukan ini' atau 'lakukan itu'. Peran utama kami adalah membantu pembiayaan dan memberikan dukungan teknis untuk hal-hal yang telah diputuskan oleh negara tersebut," ujar Eduardo.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi penting untuk menghadapi perubahan dan reformasi kesehatan yang terus berkembang.

Sementara itu, Country Director Indonesia Resident Mission ADB Bobur Alimov mengatakan Asia Tenggara menghadapi sejumlah tantangan kesehatan, mulai dari populasi yang semakin menua, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga dampak perubahan iklim.

Menurut Bobur, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan maupun satu negara secara sendiri-sendiri.

"Tidak ada satu pun dari tantangan ini yang dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, maupun oleh satu negara saja. Ini membutuhkan para pemimpin untuk bekerja lintas sektor dan lintas negara, membangun kemitraan, serta mengarahkan perubahan," ujar Bobur.

Ia menyebut Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki pengalaman dalam menjalankan transformasi kesehatan, antara lain melalui penguatan layanan kesehatan primer, pengembangan kesehatan digital melalui SATUSEHAT, serta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Selama lima hari, peserta Health Leadership Course akan membahas berbagai isu kesehatan, termasuk tata kelola, penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, perubahan iklim dan One Health, pencegahan serta kesiapsiagaan dan respons pandemi, hingga kesehatan digital dan inovasi.

Para peserta juga dijadwalkan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan primer di Jakarta. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Menkes Tegaskan Kemitraan Kesehatan Harus Berujung pada Dampak Nyata
Kemenkes Perkuat Sistem Kegawatdaruratan Medis Hadapi Ancaman Bencana
Kemenkes Luncurkan SATUSEHAT RME, Rekam Medis Pasien Terintegrasi Nasional
Menkes: Keselamatan Korban Jadi Prioritas Pascagempa NTT
Menkes Tinjau Pelayanan Kesehatan Korban Gempa di RSUD Ruteng
Kemenkes Percepat Pemulihan Layanan Kesehatan Pascagempa di NTT
komentar
beritaTerbaru