Sabtu, 12 September 2026

Kemenkes Kerahkan 160 Tenaga Kesehatan untuk Pulihkan Kesehatan Warga Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 12 September 2026 10:30 WIB
Kemenkes Kerahkan 160 Tenaga Kesehatan untuk Pulihkan Kesehatan Warga Terdampak Gempa NTT
Kemenkes RI kembali mengerahkan TCK untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di NTT.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengerahkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dilansir dari laman Kemkes, sebanyak 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, pada 7 September 2026. Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya mengatakan penugasan TCK Batch 2 difokuskan pada penguatan layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak gempa.

"Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores," ujar Sumarjaya.

Pengiriman tersebut merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah dikirim untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.

Pada tahap kedua, tenaga kesehatan akan ditempatkan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit lapangan. Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan kesehatan, yakni di Ruteng dan Ngada.

Selain memberikan pelayanan medis, para tenaga kesehatan juga akan memberikan dukungan psikososial, terutama kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.

Menurut Sumarjaya, dampak gempa tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan fisik seperti luka dan patah tulang, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana dapat menimbulkan trauma dan tekanan mental. "Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak," katanya.

Dokter umum TCK, dr Shaldy Syifa Azzahri mengatakan para tenaga kesehatan telah mempersiapkan berbagai peralatan dan bahan kesehatan yang diperlukan selama menjalankan tugas. Persiapan juga mencakup kondisi fisik dan mental masing-masing tenaga kesehatan.

"Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain," ujar Shaldy.

Ia menilai pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dilakukan dengan menangani kondisi fisik masyarakat. Pemulihan kesehatan psikologis juga menjadi bagian penting setelah bencana berlangsung selama beberapa pekan.

"Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka," katanya.

Sementara itu, dokter umum TCK asal Padang, dr Rayhendra Hanif mengatakan dirinya telah mempersiapkan kondisi mental dan perbekalan pribadi, termasuk obat-obatan yang diperlukan selama penugasan.

Rayhendra mengaku terdorong untuk bergabung sebagai TCK karena pernah mengalami gempa bumi di Padang pada 2009 saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuatnya ingin membantu masyarakat yang menghadapi bencana serupa.

"Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa," ungkapnya.

Penugasan TCK dilaksanakan mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel.

Penempatan tenaga kesehatan juga disesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain memperkuat layanan psikososial, TCK turut membantu perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah mengerahkan dokter spesialis, termasuk spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan operasi.

Kemenkes juga memperkuat surveilans kesehatan di wilayah terdampak untuk memantau dan mengidentifikasi potensi penyakit menular. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah pascabencana.

"Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah," tandas Sumarjaya.

Kemenkes memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT terus diperkuat, baik melalui penambahan tenaga kesehatan maupun dukungan terhadap pemulihan kesehatan fisik dan psikologis masyarakat. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Perkuat Sistem Kegawatdaruratan Medis Hadapi Ancaman Bencana
Nakes Tembus Medan Ekstrem, Layani Warga Terdampak Gempa di Ende
Kemendikdasmen Percepat Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT
Kemenkes dan OJK Perkuat Pembiayaan Kesehatan melalui Kolaborasi Asuransi dan Rumah Sakit
Kemenkes Ingatkan Masyarakat Jangan Abaikan Tanda Gangguan Jiwa, Kenali Sejak Dini
Kemenkes dan CEPI Uji Kesiapan Indonesia Hadapi Ancaman Pandemi Baru
komentar
beritaTerbaru