Jumat, 30 Oktober 2026

Kemenkes Kerahkan 160 Tenaga Kesehatan untuk Pulihkan Kesehatan Warga Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 12 September 2026 10:30 WIB
Kemenkes Kerahkan 160 Tenaga Kesehatan untuk Pulihkan Kesehatan Warga Terdampak Gempa NTT
Kemenkes RI kembali mengerahkan TCK untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di NTT.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengerahkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dilansir dari laman Kemkes, sebanyak 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, pada 7 September 2026. Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya mengatakan penugasan TCK Batch 2 difokuskan pada penguatan layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak gempa.

"Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores," ujar Sumarjaya.

Pengiriman tersebut merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah dikirim untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.

Pada tahap kedua, tenaga kesehatan akan ditempatkan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit lapangan. Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan kesehatan, yakni di Ruteng dan Ngada.

Selain memberikan pelayanan medis, para tenaga kesehatan juga akan memberikan dukungan psikososial, terutama kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.

Menurut Sumarjaya, dampak gempa tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan fisik seperti luka dan patah tulang, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana dapat menimbulkan trauma dan tekanan mental. "Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak," katanya.

Dokter umum TCK, dr Shaldy Syifa Azzahri mengatakan para tenaga kesehatan telah mempersiapkan berbagai peralatan dan bahan kesehatan yang diperlukan selama menjalankan tugas. Persiapan juga mencakup kondisi fisik dan mental masing-masing tenaga kesehatan.

"Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain," ujar Shaldy.

Ia menilai pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dilakukan dengan menangani kondisi fisik masyarakat. Pemulihan kesehatan psikologis juga menjadi bagian penting setelah bencana berlangsung selama beberapa pekan.

"Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka," katanya.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Perkuat Sandbox Kesehatan, 11 Inovator Hadirkan Solusi Digital
Kemenkes Gelar Cek Kesehatan Gratis bagi 175 Wartawan Senior, Temukan Kasus Hipertensi
Kemenkes dan IDI Perkuat Kolaborasi Reformasi Pembiayaan JKN dan Perlindungan Dokter
Kemenkes Salurkan 137 Ribu Masker N95 untuk Warga Terdampak Karhutla di Palangkaraya
Kemenkes Perkuat Upaya Pencegahan Kebutaan, Targetkan Satu Juta Orang Jalani Deteksi Dini Gangguan Penglihatan
Kemenkes Catat 109 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Kasus TB Mulai Menurun
komentar
beritaTerbaru