Selasa, 08 September 2026

Nakes Tembus Medan Ekstrem, Layani Warga Terdampak Gempa di Ende

Selasa, 08 September 2026 11:20 WIB
Nakes Tembus Medan Ekstrem, Layani Warga Terdampak Gempa di Ende
Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam tidak menyurutkan langkah nakes untuk menjangkau masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Ende, NTT.

Jakarta (buseronline.com) - Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam tidak menyurutkan langkah tenaga kesehatan (nakes) untuk menjangkau masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dilansir dari laman Kemkes, ditengah keterbatasan akses dan sejumlah fasilitas kesehatan yang belum berfungsi optimal, para nakes bersama relawan kesehatan terus bergerak dari desa ke desa.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah pelosok, tetap memperoleh pelayanan kesehatan. Salah satunya dilakukan dr Halik Malik bersama tiga relawan lainnya, yakni dua bidan dan satu apoteker.

Mereka ditugaskan sebagai bagian dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI batch pertama di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende. Wilayah kerja Puskesmas Ndona mencakup delapan desa yang sebagian besar memiliki akses sulit.

Untuk mencapai sejumlah wilayah, tim harus menggunakan kendaraan yang dikemudikan oleh pengemudi berpengalaman menghadapi medan ekstrem, bahkan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

"Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki," ujar dr Halik.

Salah satu perjalanan paling menantang dilakukan ketika tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile clinic ke Desa Nila. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau sepeda motor, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.

Perjalanan pulang juga tak kalah berat. Demi memangkas waktu, tim memilih jalur laut dari dermaga darurat. Dari kawasan tebing dan jurang, para relawan langsung menuju kapal motor untuk menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende menuju puskesmas.

"Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal," tuturnya.

Perjalanan panjang tersebut dilakukan karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan cukup tinggi, sementara sejumlah fasilitas kesehatan masih belum dapat berfungsi optimal akibat dampak gempa.

Di lapangan, tim menemukan warga yang masih bertahan di rumah dengan mendirikan tenda pengungsian secara mandiri di depan rumah. Sementara warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik sambil menunggu proses pemulihan serta penyediaan hunian sementara.

Kondisi pascabencana tersebut mulai memunculkan berbagai persoalan kesehatan. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal dan nyeri persendian, hingga gangguan tidur.

Pasien dengan penyakit kronis juga mengalami kondisi yang lebih berat karena akses terhadap layanan kesehatan terganggu. Selain persoalan kesehatan fisik, sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, serangan panik dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih terjadi.

"Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan," kata dr Halik.

Tim relawan juga menemukan sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan segera, di antaranya persalinan darurat serta gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas, termasuk melakukan rujukan apabila pasien membutuhkan layanan lebih lanjut.

Menurut dr Halik, pelayanan dengan mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara efektif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan selama fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam proses pemulihan.

"Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan," ujarnya.

Kedatangan tim medis mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Keterbatasan layanan membuat warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pengobatan, sementara sejumlah pustu di wilayah terdampak belum dapat berfungsi optimal.

Di Kabupaten Ende, dari 28 puskesmas yang ada, sedikitnya 12 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes RI. Dukungan tersebut diberikan untuk memperkuat tenda pelayanan kesehatan sekaligus membantu pelayanan dari desa ke desa di wilayah kerja puskesmas terdampak.

"Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana," jelas dr Halik.

Kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri. Jalur pegunungan dengan jurang dan tebing curam diperparah kerusakan jalan serta longsor di sejumlah titik. Gempa susulan membuat masyarakat dan tenaga kesehatan harus tetap meningkatkan kewaspadaan.

Meski menghadapi berbagai kendala, petugas puskesmas bersama para relawan terus berupaya menjangkau seluruh wilayah kerja dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan.

"Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik," ujar dr Halik.

Kementerian Kesehatan terus memperkuat respons kesehatan bersama pemerintah daerah melalui dukungan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan kesehatan, serta distribusi logistik medis.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat selama fasilitas kesehatan yang terdampak gempa masih dalam proses pemulihan. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemendikdasmen Percepat Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT
Brimob Sediakan Wi-Fi Gratis bagi Pengungsi Gempa di Manggarai
Pascagempa NTT, Polri Sambangi Personel Polres Ende yang Terdampak Bencana
Kemendikdasmen Berikan Dukungan Psikososial bagi Murid dan Guru Terdampak Gempa NTT
Kemenkes Kerahkan 392 Tenaga Kesehatan Tangani Korban Gempa Flores
Satgas SAR Brimob Berikan Trauma Healing kepada Anak Korban Gempa di Manggarai
komentar
beritaTerbaru