Jumat, 16 Oktober 2026

10 Tahun NGTS, Kemendikdasmen Dorong Sekolah Jadi Agen Perubahan Gizi Anak

Jumat, 28 Agustus 2026 17:25 WIB
10 Tahun NGTS, Kemendikdasmen Dorong Sekolah Jadi Agen Perubahan Gizi Anak
Perayaan 10 tahun Program NGTS di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada 23 Agustus 2026.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melalui SEAMEO RECFON terus memperkuat pendidikan gizi berbasis sekolah melalui program Nutrition Goes to School (NGTS).

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, memasuki satu dekade pelaksanaan, program tersebut mendorong agar edukasi gizi tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Selama 10 tahun, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Sebanyak 279 sekolah dan madrasah juga telah memperoleh pendampingan teknis di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Program tersebut turut menghasilkan 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri yang tersebar di tujuh wilayah dampingan di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia perlu direspons secara komprehensif dengan menjadikan sekolah sebagai agen perubahan.

"Yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini adalah tidak hanya kekurangan gizi pada anak-anak, ada juga yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi, ini bagian penting yang ingin kita respons melalui sekolah sebagai agen perubahan," ujar Tatang dalam perayaan 10 tahun Program NGTS di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada 23 Agustus 2026.

Menurut Tatang, sekolah memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran dan kebiasaan gizi yang baik melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan demikian, anak diharapkan mampu memahami kebutuhan gizi sekaligus menerapkannya dalam keseharian.

"Dengan adanya program ini, harapannya nanti di sekolah ada perubahan terkait bagaimana anak-anak mendapatkan gizi yang terbaik, tidak kelebihan, tidak kekurangan, dan juga terkait gizi mikro," tuturnya.

Program NGTS diterapkan melalui berbagai kegiatan, seperti kebun sekolah, kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga kewirausahaan.

Salah satu sekolah yang menerapkan pendekatan tersebut adalah SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Guru Biologi sekaligus tim NGTS, Zainal Fanani, mengatakan berbagai kegiatan di sekolahnya telah diintegrasikan dengan pendidikan gizi.

"Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, serta kewirausahaan," ujar Zainal.

Melalui kebun sekolah, peserta didik tidak hanya belajar mengenal berbagai tanaman, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam mengolah hasil panen. Sekolah juga membangun kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan senam setiap Jumat.

Sementara itu, kantin SMA Negeri 1 Singosari berhasil meraih penghargaan sebagai kantin sehat nasional juara dua di regional barat.

Kepala SMA Negeri 1 Singosari Sri Endang Hidajati menilai keberhasilan pendidikan gizi tidak cukup hanya dilihat dari pemahaman siswa selama berada di sekolah. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan di rumah dan lingkungan masyarakat.

"Harapan saya, edukasi gizi kepada murid-murid SMA Negeri 1 Singosari tidak hanya terbatas di ruang sekolah, tetapi juga bisa diimplementasikan di mana pun anak-anak berada, termasuk bekerja sama dengan orang tua untuk mendukung pelaksanaan edukasi gizi ini," ujar Sri.

Direktur SEAMEO RECFON Rini Sekartini mengatakan NGTS selama satu dekade tidak hanya berfokus pada edukasi gizi, tetapi juga mendorong sekolah menghasilkan praktik baik yang dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

"Programnya intinya adalah gizi pada anak sekolah, bukan hanya edukasi, tetapi juga praktik baik yang bisa dilakukan, terutama oleh sekolah," ujar Rini.

Menurutnya, guru dan kepala sekolah menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan program karena sekolah merupakan pusat penerapan berbagai praktik gizi.

Kegiatan NGTS juga berkembang sesuai dengan potensi masing-masing sekolah. Selain kebun sekolah, sejumlah sekolah mengembangkan peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi peserta didik.

Rini menegaskan bahwa gizi merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak sekaligus investasi untuk masa depan bangsa.

"Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya," ujarnya.

Memasuki dekade kedua, kolaborasi Kemendikdasmen dan SEAMEO RECFON diharapkan semakin memperluas praktik baik NGTS di Indonesia sekaligus membuka ruang berbagi pengalaman dengan negara-negara Asia Tenggara.

Dengan pendekatan yang menggabungkan edukasi dan praktik langsung, NGTS diharapkan mampu menjadikan perilaku hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang sebagai bagian dari budaya sekolah yang terus tumbuh dan berkelanjutan. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Rumah Pendidikan Hadirkan Pembelajaran Interaktif, Bantu Guru dan Siswa di SMA Negeri 80 Jakarta
Revitalisasi Dua Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Ditargetkan Rampung Desember 2026
Kemendikdasmen Perkuat Digitalisasi PAUD untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Anak Usia Dini
Kemendikdasmen Raih Platinum Awards AHI 2026, Sabet 21 Trofi Penghargaan
Kemendikdasmen Dorong Pendidikan Jadi Penggerak Konservasi Keanekaragaman Hayati
IMSO ke-23 Resmi Ditutup, 207 Matematikawan Muda dari 23 Negara Adu Kemampuan
komentar
beritaTerbaru