Selasa, 25 Agustus 2026

Menkes Imbau Masyarakat Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara Saat Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 10:39 WIB
Menkes Imbau Masyarakat Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara Saat Karhutla
Menkes RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Dilansir dari laman Kemkes, imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah untuk melindungi masyarakat dari paparan partikel halus PM2,5 yang terkandung dalam asap karhutla.

Partikel berukuran sangat kecil itu dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

"Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA," kata Budi, pada 21 Agustus 2026.

Budi menjelaskan, PM2,5 merupakan partikel udara dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang salah satunya dihasilkan dari pembakaran hutan dan lahan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat terhirup dan mencapai bagian terdalam paru-paru.

Paparan asap karhutla dapat menyebabkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis.

Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang mudah dilakukan masyarakat saat kondisi udara mulai dipenuhi asap. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat.

Selain menggunakan masker, Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat untuk rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi maupun sumber informasi resmi. Pemantauan tersebut penting agar warga dapat menentukan langkah yang tepat sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 21 Agustus 2026, karhutla telah meluas ke 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Sekitar tiga juta jiwa di 37 kabupaten/kota tercatat terpapar langsung kabut asap akibat karhutla. Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele gejala gangguan pernapasan.

Warga yang mengalami sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat diminta segera mendapatkan pertolongan medis di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan riwayat asma dan penyakit paru juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap karhutla.

Dengan penggunaan masker, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta pemantauan kualitas udara secara berkala, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan selama karhutla berlangsung. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Presiden Prabowo Apresiasi Sinergi Penanganan Karhutla di Riau
Polri Perkuat Penanganan Karhutla, 72 Tersangka Diamankan hingga Agustus 2026
RS Lapangan Kemenkes di Manggarai Beroperasi, Anak Korban Gempa Jalani Operasi Patah Tulang
Menkes: Keselamatan Korban Jadi Prioritas Pascagempa NTT
Kemenkes Bangun Rumah Sakit Lapangan di Ruteng, Siapkan 100 Tempat Tidur untuk Korban Gempa
Kemenkes Gandeng Jerman dan Bayer Perkuat Pasokan Suplemen Ibu Hamil
komentar
beritaTerbaru