Senin, 13 Juli 2026

Pemerintah Perkuat Pencegahan dan Penanganan Stroke melalui Program Cek Kesehatan Gratis

Senin, 13 Juli 2026 12:30 WIB
Pemerintah Perkuat Pencegahan dan Penanganan Stroke melalui Program Cek Kesehatan Gratis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan lainnya membuka Forum ICCONNS bertema "Strategic Shift: Multidisciplinary Neuro-Care Synergy in Neuro-Oncology, Vascular, Spine, & Critical Care", di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stroke di Indonesia dengan mengedepankan langkah preventif melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dilansir dari laman Kemkes, program ini ditargetkan menjangkau 130 juta penduduk pada tahun 2026 setelah berhasil mencatat 70 juta pemeriksaan pada tahun pertama pelaksanaannya.

Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap tingginya angka kematian akibat stroke yang kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Setiap tahun, sekitar 337.000 orang meninggal dunia akibat penyakit ini, bahkan angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena masih banyak kasus yang belum tercatat dalam sistem registrasi nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dalam lima tahun mendatang pemerintah menargetkan program skrining massal dapat menjangkau 280 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi Indonesia.

Fokus utama program ini adalah mendeteksi secara dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko utama stroke.

"Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin," ujar Budi saat memberikan arahan pada Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summit (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat.

Pemerintah juga menerapkan pendekatan 80-80-80, yaitu 80 persen penduduk teridentifikasi, 80 persen dari mereka yang teridentifikasi mendapatkan penanganan, dan 80 persen dari yang ditangani berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya.

Selain upaya pencegahan, pemerintah mempercepat kesiapan layanan kesehatan dengan menargetkan seluruh 514 kabupaten/kota memiliki fasilitas CT scan dan cath lab.

Ketersediaan fasilitas tersebut dinilai penting karena keberhasilan penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan medis.

Di bidang sumber daya manusia, dokter bedah umum di tingkat kabupaten dan kota akan mendapatkan pelatihan untuk melakukan prosedur kraniotomi pada kasus stroke hemoragik.

Sementara itu, seluruh provinsi akan dilengkapi peralatan medis modern seperti Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA), neuronavigasi, dan mikroskop operasi.

Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta, dr Adin Mulkasana menyatakan bahwa penanganan penyakit neurologi seperti stroke memerlukan diagnosis yang cepat serta sinergi multidisiplin.

"Melalui ICONNS 2026, kita membangun standardisasi klinis yang seragam di seluruh daerah. Sinergi multidisiplin menjadi kunci utama untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan permanen akibat stroke di Indonesia," tegas Adin.

Melalui penguatan pencegahan dan peningkatan layanan kesehatan dari hulu hingga hilir, pemerintah berharap dapat menekan angka kematian akibat stroke sekaligus meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun mendatang. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Menkes Ajak Generasi Muda Terapkan Pola Makan Sehat Berbasis Pangan Lokal
Menkes Luncurkan Cek Kesehatan Gratis di FKTP Polri, Dorong Masyarakat Cegah Penyakit Sejak Dini
Jateng Jadi Provinsi dengan Peserta Cek Kesehatan Gratis Terbanyak di Indonesia
Filantropi Dinilai Jadi Katalis Penguatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
Indonesia Percepat Transformasi Pengendalian Kanker Lewat Deteksi Dini dan Kolaborasi Global
Menkes Budi Tegaskan Digitalisasi Jadi Kunci Reformasi Kesehatan Nasional
komentar
beritaTerbaru