Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan komitmennya dalam mewujudkan lanjut usia (lansia) yang sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat melalui penyelenggaraan Indonesia Active Ageing Summit 2026 yang menjadi puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30.
Dilansir dari laman Kemkes, kegiatan yang berlangsung di Gedung C Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), Jakarta, Jumat, itu mengusung tema "Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya".
Tema tersebut menjadi refleksi sekaligus momentum untuk memperkuat berbagai program pemerintah dalam menghadapi meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan RI,
dr Benjamin Paulus Octavianus mengatakan keberhasilan pembangunan tidak hanya ditandai dengan meningkatnya angka harapan hidup, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk tetap sehat, aktif, dan produktif hingga usia lanjut.
"Tujuan kita bukan sekadar memperpanjang umur. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat dapat tetap aktif, produktif, dan bermartabat di usia lanjut. Kita ingin masyarakat Indonesia hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama tetapi dalam kondisi sakit," ujar Benjamin.
Saat ini Indonesia telah memasuki era ageing population dengan jumlah lansia mencapai sekitar 34 juta jiwa atau hampir 12 persen dari total populasi.
Seiring meningkatnya angka harapan hidup, pemerintah terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif guna menekan risiko penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian pada kelompok lansia.
Benjamin menilai sebagian besar penyakit yang banyak dialami lansia, seperti hipertensi, diabetes, stroke, hingga gagal ginjal, sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat sejak usia muda.
Menurutnya, aktivitas fisik secara rutin menjadi salah satu kunci utama untuk menjaga kesehatan. Ia mendorong masyarakat untuk berolahraga atau berjalan kaki setidaknya 30 menit setiap hari selama lima hari dalam sepekan guna mempertahankan kebugaran dan kemandirian saat memasuki usia lanjut.
Selain aspek kesehatan, pemerintah juga mendorong penguatan sistem perawatan jangka panjang (long-term care) berbasis keluarga dan komunitas. Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat semakin banyak lansia yang membutuhkan pendampingan dan perawatan di rumah.
"Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga siapa yang kita lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa yang harus dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr Maria Endang Sumiwi mengatakan transformasi layanan primer terus dilakukan untuk memperluas akses layanan kesehatan ramah lansia di seluruh Indonesia.
Hingga saat ini, sebanyak 8.911 puskesmas telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang melayani seluruh siklus hidup termasuk kelompok lansia. Selain itu, 9.013 puskesmas telah menyelenggarakan layanan perawatan jangka panjang dan 7.887 puskesmas telah menjadi puskesmas ramah lansia.
Namun, hasil pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 6,8 juta lansia menunjukkan masih tingginya sejumlah faktor risiko kesehatan. Sebanyak 95 persen lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, 58 persen memiliki tekanan darah di atas normal, dan 51 persen mengalami kelebihan berat badan.
"Data ini menunjukkan bahwa upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit harus terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri," kata Endang.
Melalui peringatan HLUN ke-30 dan Indonesia Active Ageing Summit 2026, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat yang menerapkan pola hidup sehat sejak usia produktif sehingga dapat menikmati masa tua yang sehat, aktif, dan berkualitas. (R)
beritaTerkait
komentar