Senin, 08 Juni 2026

Kemenkes Percepat Pemanfaatan Robotika untuk Tingkatkan Layanan Rehabilitasi Stroke

Minggu, 07 Juni 2026 14:00 WIB
Kemenkes Percepat Pemanfaatan Robotika untuk Tingkatkan Layanan Rehabilitasi Stroke
Direktur Jenderal SDMK Yuli Farianti menyapa peserta usai saat memberikan keynote speech pada BTL Robotics Academy di Bali, Kamis (4/6/2026).

Bali (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus mempercepat pemanfaatan teknologi robotika dalam pelayanan kesehatan sebagai bagian dari agenda Transformasi Teknologi Kesehatan.

Dilansir dari laman Kemkes, langkah ini dilakukan untuk menjawab tingginya beban penyakit tidak menular, khususnya stroke, yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di Indonesia.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Yuli Farianti menegaskan bahwa teknologi robotik memiliki peran penting dalam memperkuat layanan rehabilitasi bagi penyintas stroke yang membutuhkan proses pemulihan jangka panjang.

"Robot tidak hadir untuk menggantikan tenaga kesehatan. Sebaliknya, teknologi ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan mendukung kinerja tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif, presisi, dan berkelanjutan kepada pasien," ujar Yuli saat memberikan keynote speech pada BTL Robotics Academy di Bali, Kamis.

Berdasarkan data tahun 2023, sekitar 3,9 juta penduduk Indonesia hidup dengan stroke dan penyakit tersebut menyebabkan lebih dari 337 ribu kematian. Indonesia juga menyumbang sekitar 6,5 persen beban disabilitas akibat stroke secara global.

Menurut Yuli, dampak stroke tidak hanya terlihat dari tingginya angka kematian, tetapi juga dari gangguan fisik dan kognitif jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kemandirian penyintas. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan layanan rehabilitasi terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Rehabilitasi bukan lagi layanan pelengkap. Rehabilitasi telah menjadi bagian esensial dari pelayanan kesehatan modern karena berperan penting dalam membantu pasien mendapatkan kembali fungsi dan kemandiriannya," katanya.

Peningkatan kebutuhan layanan rehabilitasi juga tercermin dari besarnya pembiayaan kesehatan. Klaim pelayanan terkait stroke tercatat meningkat dari Rp2,7 triliun menjadi Rp5,6 triliun hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem robotika kesehatan yang terintegrasi. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan mitra industri, serta penyusunan berbagai kebijakan pendukung.

"Kami tengah membentuk Komite Nasional Robotika Kesehatan serta menyiapkan fondasi bagi pengembangan pusat pelatihan, pelayanan, dan inovasi robotika kesehatan. Pada saat yang sama, kami juga mempersiapkan kerangka regulasi yang mendukung inovasi masa depan, termasuk telesurgery berbasis robotik dan pengembangan teknologi kesehatan dalam negeri," jelasnya.

Yuli menambahkan bahwa tujuan utama pengembangan robotika kesehatan adalah memperluas akses layanan kesehatan berkualitas, memperkuat kapasitas nasional, serta meningkatkan kualitas pemulihan pasien. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam mendorong kemajuan neurorehabilitasi di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.

"Masa depan neurorehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan kolaborasi. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemitraan yang kuat, kita dapat membantu lebih banyak masyarakat Indonesia untuk memulihkan fungsi, memperoleh kembali kemandirian, dan membangun harapan baru," tuturnya.

Kementerian Kesehatan berharap setiap inovasi yang dikembangkan di bidang robotika kesehatan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung proses pemulihan pasien agar dapat kembali menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.

"Mari kita pastikan bahwa setiap inovasi yang kita kembangkan memiliki satu tujuan utama, yaitu membantu pasien pulih lebih baik, hidup lebih baik, dan kembali menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna," pungkas Yuli. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Luncurkan Kampanye #SehatTanpaRokok untuk Cegah Perokok Muda
Kemenkes Perkuat Skrining Hepatitis, Dorong Deteksi Dini Penyakit Hati Kronis
Kemenkes Luncurkan Program Nutri-Level untuk Dorong Gaya Hidup Sehat
Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Hanta, Indonesia Belum Temukan Kasus HPS
Kemenkes RI Ingatkan Bahaya Obesitas bagi Kesehatan Masyarakat
Kemenkes Benahi Total Program Internsip Dokter
komentar
beritaTerbaru