Selasa, 26 Mei 2026

332 Anak Terlibat Kerusuhan Demonstrasi, Bareskrim: Mayoritas Pelajar Ikut-ikutan

Kamis, 06 November 2025 01:00 WIB
332 Anak Terlibat Kerusuhan Demonstrasi, Bareskrim: Mayoritas Pelajar Ikut-ikutan
Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin menyampaikan sambutan pada Forum Group Discussion bertema ‘Sinergi Antar Lembaga untuk Terlindunginya Hak-Hak Anak yang Berhadapan dengan Hukum’ di Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Jakarta (buseronline.com) - Direktorat Bareskrim Polri mengungkap sebanyak 332 anak terlibat dalam kerusuhan yang terjadi saat aksi demonstrasi pada Agustus lalu.

Mayoritas di antara mereka diketahui masih berstatus pelajar dan terlibat bukan karena niat kriminal, melainkan karena ikut-ikutan dan termobilisasi tanpa memahami konsekuensi hukum.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Bareskrim Polri (Wakabareskrim) Irjen Pol Nunung Syaifuddin dalam sambutannya pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sinergi Antar Lembaga untuk Terlindunginya Hak-hak Anak yang Berhadapan dengan Hukum” di Jakarta, Selasa.

“Yang menarik, lebih dari 90 persen dari mereka adalah pelajar, mulai dari SMP hingga SMA atau SMK, bahkan ada yang masih mengikuti program kejar paket. Sebagian besar terseret bukan karena niat kriminal, tetapi karena ikut-ikutan, termobilisasi, atau tidak memahami konsekuensi hukum dari tindakannya,” ujar Irjen Nunung.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, jumlah anak terlibat kerusuhan paling banyak berasal dari Polda Jawa Timur sebanyak 144 anak, disusul Polda Jawa Tengah 77 anak, dan Polda Metro Jaya 36 anak.

Sementara Polda Jawa Barat mencatat 34 anak, dan sisanya tersebar di wilayah DIY, NTB, Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Bali, dan Sumatera Selatan.

Dari total 332 anak tersebut, sebanyak 160 anak telah menjalani diversi, 37 anak ditangani dengan pendekatan restorative justice, 28 anak masih di tahap satu, dan 73 anak di tahap dua.

Sedangkan 34 anak lainnya telah dinyatakan P21 atau siap diserahkan ke kejaksaan. Irjen Nunung menegaskan pentingnya adanya kebijakan lintas sektoral dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum.

Ia menekankan agar proses hukum tetap mempertimbangkan sisi humanisme dan masa depan anak-anak tersebut. “Perlu dibuat SOP, koordinasi antarlembaga, serta penerapan diversi dan restorative justice. Kemudian menyusun action plan atau rencana aksi yang konkret dan dapat diterapkan di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan sejak dini melalui edukasi dan literasi digital. “Kita perlu menentukan strategi pencegahan dengan memperkuat edukasi, literasi digital, serta peran keluarga dan sekolah agar anak tidak mudah terprovokasi untuk terlibat dalam aksi-aksi yang berisiko hukum,” pungkasnya. (R)
Editor
: Agie HT Bukit SH
beritaTerkait
Kemenhub Perkuat Layanan Transportasi Inklusif bagi Kelompok Rentan dan Wilayah 3T
Presiden Prabowo Resmikan Renovasi Museum dan Perpustakaan Seskoad di Bandung
Pertamina Tekankan Peran Strategis NOC dalam Menjaga Ketahanan Energi
Wamenkes Dante Dorong Deteksi Dini Lewat Cek Kesehatan Gratis Mitra Gojek
Semangat Literasi Tumbuh dari Perbatasan, Malinau Jadi Contoh Kolaborasi Pendidikan
Girona Resmi Terdegradasi dari La Liga, Elche Bertahan Usai Bermain Imbang
komentar
beritaTerbaru