Magelang (buseronline.com) - Kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Prinsip itulah yang dipegang Eikhel Mahardika Ginting, pemuda asal Desa Talun Kenas, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, yang akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) setelah tiga kali gagal dalam seleksi.
Kisah perjuangan Eikhel menjadi salah satu cerita inspiratif di balik prosesi Wisuda Prajurit Taruna
Akademi TNI dan Bhayangkara Taruna Akademi Kepolisian Tahun Pendidikan 2026 yang berlangsung di Lapangan Sapta Marga
Akademi Militer, Magelang, Kamis (8/10/2026).
Eikhel merupakan putra sulung dari tiga bersaudara, anak pasangan Samion Ginting dan Ana Rosmeri br Tarigan. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan kedua orang tua yang bekerja sebagai petugas keamanan atau satpam.
Meski berasal dari keluarga sangat sederhana, Eikhel tidak pernah melepaskan cita-citanya untuk menjadi prajurit TNI Angkatan Laut. Namun, jalan menuju impian tersebut tidaklah mudah. Pada seleksi tahun 2023, 2024, dan 2025, Eikhel harus menerima kenyataan pahit setelah dinyatakan gugur pada tahap pantukhir Kodam I/Bukit Barisan.
Tiga kali kegagalan itu menjadi ujian berat, tetapi tidak cukup kuat untuk memadamkan semangatnya. Eikhel kembali mencoba untuk keempat kalinya. Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lulus dan resmi menjadi Taruna AAL.
Ibunda Eikhel, Ana Rosmeri br Tarigan, mengaku bersyukur dan bangga atas pencapaian putranya yang tidak pernah menyerah meski berulang kali mengalami kegagalan. "Ini adalah kali keempat Eikhel mengikuti seleksi dan akhirnya diterima menjadi Taruna AAL. Sebelumnya, ia tiga kali gugur di tingkat pantukhir Kodam I/BB pada tahun 2023, 2024, dan 2025," ungkap Ana.
Ada satu momen yang hingga kini masih membekas di hati Ana, yakni ketika Eikhel mengabarkan kelulusannya melalui panggilan video kepada kedua orang tuanya. Dengan suara bergetar dan air mata haru, Eikhel menyampaikan kabar yang telah lama dinantikan keluarganya. "Mak, Pak, aku lulus jadi Taruna AAL. Aku lulus," ujar Eikhel sambil menangis.
Mendengar kabar tersebut, kedua orang tuanya langsung mengucap syukur kepada Tuhan. Kebahagiaan itu semakin terasa karena mereka mengetahui betapa panjang perjuangan yang harus dilalui putra mereka untuk mencapai impiannya.
Bagi keluarga Samion Ginting dan Ana Rosmeri br Tarigan, keberhasilan Eikhel bukan sekadar pencapaian pribadi. Momen tersebut menjadi buah dari ketekunan, doa, serta dukungan keluarga yang terus menguatkannya di tengah berbagai kegagalan.
Ana berharap perjalanan putranya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di Kabupaten
Deliserdang, agar tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi maupun kegagalan berkali-kali bukan alasan untuk berhenti berjuang selama masih ada kemauan dan kesempatan untuk mencoba kembali.
Seperti diketahui, Eikhel menjadi bagian dari prosesi wisuda yang diikuti sebanyak 1.944 Taruna TNI dan Polri di
Akademi Militer, Magelang. Mereka resmi menyandang status sebagai Prajurit Taruna dan Bhayangkara Taruna setelah menyelesaikan Pendidikan Dasar Keprajuritan selama dua bulan.
Upacara tersebut dipimpin Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto bersama Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Komjen Pol Rudi Darmoko. Sejumlah pejabat TNI dan Polri turut hadir, termasuk Gubernur Akademi Militer Mayjen TNI Rano Tilaar SE MM beserta Ibu Tanya Tilaar.
Dari total 1.944 Taruna, sebanyak 1.595 merupakan Taruna TNI dan 349 Taruna Polri. Rinciannya,
Akademi Militer (Akmil) sebanyak 913 Taruna, Akademi Angkatan Laut (AAL) 413 Taruna, Akademi Angkatan Udara (AAU) 269 Taruna, serta Akademi Kepolisian (Akpol) 349 Taruna yang terdiri dari 319 Taruna dan 30 Taruni.
Prosesi wisuda diawali dengan penyambutan dan pemeriksaan pasukan, dilanjutkan pengukuhan status dari Calon Prajurit Taruna menjadi Prajurit Taruna TNI dan Bhayangkara Taruna Akpol. Suasana khidmat semakin terasa saat dilakukan penyematan tanda pangkat kepada perwakilan Taruna terbaik dari masing-masing matra dan Akpol, serta pengambilan sumpah sebagai bentuk komitmen pengabdian kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam arahannya, Panglima TNI menekankan bahwa perkembangan lingkungan strategis menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Ancaman terhadap bangsa tidak lagi terbatas pada konflik bersenjata, tetapi juga mencakup serangan siber, disinformasi, kejahatan lintas negara, hingga bencana.
Karena itu, generasi TNI dan Polri dituntut mampu beradaptasi, menguasai teknologi, serta bergerak cepat dan terpadu dalam menghadapi berbagai tantangan.
Panglima TNI juga berpesan agar seluruh Taruna melanjutkan pendidikan di akademi masing-masing dengan semangat, disiplin, dan penuh tanggung jawab demi memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara.
Bagi Eikhel Mahardika Ginting, wisuda ini bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan panjang untuk menggapai cita-cita sebagai perwira TNI Angkatan Laut.
Perjalanannya menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu diraih melalui jalan yang mudah. Terkadang, dibutuhkan keberanian untuk bangkit berkali-kali hingga kesempatan yang dinantikan akhirnya datang. (P3)
beritaTerkait
komentar