Rabu, 26 Agustus 2026

Jateng Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Atasi Ancaman Kekeringan

Rabu, 26 Agustus 2026 18:30 WIB
Jateng Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Atasi Ancaman Kekeringan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen memberikan mauidhah hasanah dalam acara Dzikro Maulidurrosul Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ar Roudloh Babadan, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Selasa (25/8/2026).

Batang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.

Dilansir dari laman Jatengprov, salah satu upaya yang didorong adalah modifikasi cuaca guna mengurangi dampak kekeringan berkepanjangan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

"Dengan harapan ini bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini," ujar Taj Yasin seusai memberikan mauidhah hasanah dalam acara Dzikro Maulidurrosul Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ar Roudloh Babadan, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, pada 25 Agustus 2026.

Upaya tersebut dilakukan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah yang menetapkan 14 daerah dalam status Awas kekeringan meteorologis untuk periode 21-31 Agustus 2026.

Ke-14 daerah tersebut meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.

BMKG juga memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September 2026. Awal September diperkirakan menjadi salah satu periode dengan kondisi paling kering.

Taj Yasin menegaskan, ancaman kekeringan tidak hanya perlu diatasi melalui langkah darurat, tetapi juga harus menjadi momentum untuk memperbaiki pengelolaan air dalam jangka panjang.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur dan permukiman perlu tetap memperhatikan ketersediaan lahan sebagai daerah resapan air. Penggunaan beton yang berlebihan dinilai dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.

"Ini peringatan buat kita, bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita. Pori-porinya harus diperhatikan," katanya.

Ia juga mendorong masyarakat dan pengembang perumahan agar tidak seluruhnya menutup permukaan tanah dengan beton. Pembangunan sumur biopori dan sumur resapan di lingkungan rumah dinilai perlu diperbanyak untuk membantu menjaga cadangan air tanah.

Sementara itu, untuk menangani dampak kekeringan yang sudah terjadi, Pemprov Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiagakan armada truk tangki.

Armada tersebut digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan.

Taj Yasin mengatakan, koordinasi juga terus dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan kota, terutama untuk memastikan ketersediaan air bersih yang layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat selama musim kemarau sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan yang masih berpotensi terjadi hingga September 2026. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Karhutla Jateng Capai 232 Kejadian, Naik 700 Persen Dibanding Tahun Lalu
Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Warga Jateng Perkuat Persatuan dan Gotong Royong
Jateng Jadikan Desa Kepyar Proyek Percontohan Pengentasan Kemiskinan
Pemprov Jateng Tingkatkan Literasi melalui Transformasi Perpustakaan
Gubernur Jateng Tegaskan Tak Boleh Ada Korupsi dalam Pengelolaan Anggaran Daerah
UMKM Jawa Tengah Olah Limbah Jadi Produk Kreatif, Tembus Pasar Internasional
komentar
beritaTerbaru