Bogor (buseronline.com) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan penguatan ketahanan pangan nasional tidak terlepas dari sinergi kuat bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengawal pelaksanaan program pertanian hingga ke tingkat lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum yang turut dihadiri Panglima TNI Agus Subianto di Universitas Pertahanan (
Unhan), kawasan IPSC Sentul, Kabupaten Bogor, Selasa.
Dalam kesempatan itu, Amran menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif TNI, mulai dari tingkat bawah hingga pimpinan tertinggi, dalam memastikan berbagai program pertanian berjalan efektif dan tepat sasaran.
"Kami utang budi pada TNI. Suatu capaian tidak mungkin diraih tanpa dukungan luar biasa dari TNI, dari Babinsa sampai Panglima," ujar Amran dilansir dari laman Kementan.
Ia menegaskan, peran TNI bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi motor penggerak di lapangan yang memastikan implementasi program menyentuh langsung petani.
Dalam paparannya, Amran mengungkapkan bahwa produksi pangan nasional saat ini mencapai sekitar 34,69 juta ton, menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah Indonesia.
Sementara itu, cadangan beras pemerintah telah menembus 5,12 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka. "Pada 1984, stok kita sekitar 2,6 juta ton. Hari ini lebih dari dua kali lipat. Ini kerja keras bersama," ungkapnya.
Capaian tersebut, lanjut Amran, telah mendapat pengakuan dari berbagai lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA), serta Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan konsistensi data produksi nasional di kisaran 34-35 juta ton.
Lebih jauh, ia menyoroti perubahan signifikan sejak Indonesia mengurangi impor beras dalam jumlah besar yang sebelumnya mencapai sekitar 7 juta ton. Kebijakan tersebut dinilai turut berkontribusi terhadap stabilitas harga pangan global.
"Hari ini harga pangan dunia lebih stabil karena Indonesia tidak lagi menjadi importir besar. Ini kontribusi nyata, tidak hanya untuk dalam negeri tetapi juga global," jelasnya.
Dari sisi kesejahteraan petani, peningkatan juga terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir. "Ini bukan data kami, melainkan data BPS, FAO, dan Amerika. Artinya capaian ini objektif dan terukur," tegasnya.
beritaTerkait
komentar