Padang (buseronline.com) - Optimisme terhadap masa depan komoditas gambir nasional terus menguat seiring dorongan hilirisasi yang digagas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Dilansir dari laman Kementan, kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk membuka pasar baru sekaligus memperbaiki rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pengamat dari Universitas Andalas, Muhammad Makky mengatakan arah kebijakan yang dirancang pemerintah telah disusun dalam tahapan strategis yang terukur dan berorientasi bisnis.
"Ini bukan sekadar wacana. Desainnya jelas, mulai dari pembukaan pasar, penguatan bahan baku, hingga pengembangan industri dan produk turunan," ujar Makky di Padang, Sumatera Barat, Selasa.
Ia menjelaskan, tahap awal difokuskan pada pembukaan akses pasar ekspor langsung melalui kolaborasi antara BUMN dan eksportir lokal. Skema ini diharapkan mampu memangkas rantai distribusi yang selama ini panjang dan merugikan petani.
Dalam model tersebut, koperasi desa akan berperan sebagai pemasok langsung ke BUMN, sehingga margin keuntungan yang sebelumnya tergerus di tingkat distribusi dapat kembali dinikmati petani.
"Dengan rantai pasok yang lebih pendek, disparitas harga bisa ditekan sehingga petani mendapatkan harga yang lebih adil," katanya.
Selanjutnya, pemerintah mendorong penguatan hilirisasi melalui pengembangan industri pengolahan, termasuk produksi
gambir berkualitas premium.
Upaya ini juga dibarengi dengan intensifikasi lahan dan perbaikan budidaya tanaman gambir yang selama ini belum optimal akibat rendahnya harga.
Makky menambahkan, strategi hilirisasi tidak berhenti pada produk mentah. Pemerintah juga mengarahkan pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi seperti katekin dan tanin yang memiliki pasar global luas, mulai dari industri kosmetik, pakan ternak, hingga pengolahan kulit dan tekstil.
"Nilai tambah terbesar ada pada produk turunan. Ini menjadi kunci peningkatan daya saing Indonesia sebagai produsen gambir dunia," tegasnya.
Menurutnya, pasar premium
gambir kini tidak hanya terbatas pada India, tetapi juga berkembang di negara-negara seperti Malaysia, Korea, dan Taiwan. Permintaan bahkan meningkat dari industri ramah lingkungan dan suplemen pakan ternak.
Dari sisi implementasi, program hilirisasi ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026 dengan ekspor perdana sebagai langkah awal pembuktian pasar.
Pendekatan bertahap dinilai penting untuk meminimalkan risiko bisnis sekaligus memastikan kesiapan pasokan dan kualitas produk.
Sebagai mitra pemerintah, Universitas Andalas turut berperan dalam studi kelayakan, analisis pasar, serta pembinaan koperasi desa agar mampu memenuhi standar ekspor.
Makky menegaskan dukungan penuh terhadap kebijakan Menteri Pertanian yang dinilai berpihak pada petani serta memperkuat industri nasional.
"Kami melihat ini sebagai momentum kebangkitan gambir Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, komoditas ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru," ujarnya.
Sementara itu, Mentan
Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi
gambir akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian daerah, khususnya di Sumatera Barat.
"Yang sudah ada kita tingkatkan, yang belum seperti gambir, kita dorong. Ini peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani," kata Amran. (R)
beritaTerkait
komentar