Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pentingnya peran Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai garda terdepan dalam memastikan program pertanian pemerintah benar-benar dirasakan oleh petani di lapangan.
Dilansir dari laman Kementan, penegasan tersebut disampaikan di tengah capaian positif sektor pertanian nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama kalinya melampaui 5 juta ton. Selain itu, produksi beras nasional pada 2025 meningkat sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen.
Tak hanya itu, Nilai Tukar Petani (NTP) juga mencatat kenaikan signifikan menjadi 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sektor pertanian pun mencatat pertumbuhan sebesar 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun.
Menurut Sudaryono, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah, petani, dan
HKTI sebagai penghubung utama di lapangan.
"Ini bukti kerja bersama. Pemerintah hadir, petani bekerja, dan HKTI ikut mengawal. Hasilnya nyata, stok pangan kita kuat," ujarnya saat peringatan HUT ke-53 HKTI di Kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta, Senin.
Ia menegaskan bahwa
HKTI bukan sekadar organisasi, tetapi mitra strategis pemerintah dalam memastikan kebijakan tidak berhenti di tingkat pusat.
"HKTI harus menjadi mata, telinga, dan corong pemerintah. Program tidak boleh hanya di atas kertas, tetapi harus dirasakan langsung oleh petani," tegasnya.
Lebih lanjut, Sudaryono menyebut konsolidasi internal
HKTI yang kini telah solid tanpa dualisme kepengurusan menjadi kekuatan penting dalam menggerakkan sektor pertanian dari pusat hingga daerah.
Di sisi lain, pemerintah terus melakukan pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Langkah tersebut meliputi percepatan perbaikan irigasi, penyederhanaan distribusi pupuk, hingga menjaga harga gabah dan jagung tetap menguntungkan petani.
"Kita pastikan pupuk tersedia, distribusi dipermudah, dan harga tetap berpihak pada petani," katanya.
Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi dalam negeri guna menekan ketergantungan impor pangan. Beberapa komoditas strategis seperti telur dan daging ayam bahkan telah mencapai swasembada.
"Kita optimistis produksi dalam negeri terus meningkat dan ketergantungan impor makin ditekan," tambahnya.
Ia menegaskan, seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi petani sebagai aktor utama dalam ketahanan pangan nasional.
"Tidak ada petani yang kita tinggalkan. Ini kerja bersama untuk memastikan pertanian Indonesia semakin kuat dan berdaulat," pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar