Komnas HAM dan PPM LVRI Dukung Mentan Amran Berantas Mafia Pangan
Jakarta (buseronline.com) Langkah Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman memberantas mafia pangan mendapat dukungan dari Komisi
Hukum & Peristiwa 27 menit lalu
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya dalam memperkuat implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai bagian dari transformasi menuju sektor pertanian yang rendah emisi dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa.
Dilansir dari laman Kementan, dalam keterangannya, Sudaryono menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam implementasi NEK. Selain sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK), sektor ini juga berfungsi sebagai penyerap karbon melalui praktik budidaya berkelanjutan.
"Pertanian memiliki posisi unik, tidak hanya sebagai penghasil emisi, tetapi juga sebagai penyerap karbon. Dengan penerapan teknologi rendah emisi dan pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, sektor ini dapat menjadi kunci dalam pengendalian perubahan iklim sekaligus membuka peluang ekonomi baru," ujarnya.
Ia menambahkan, kesiapan sektor pertanian dalam mengimplementasikan NEK juga menjadi faktor penting dalam menarik investasi asing, terutama seiring terbukanya perdagangan karbon internasional.
Melalui mekanisme tersebut, investor global dapat membeli kredit karbon dari Indonesia, sehingga membuka peluang pembiayaan bagi proyek pertanian rendah karbon.
"Implementasi NEK bukan hanya mendukung target penurunan emisi nasional, tetapi juga menjadi pintu masuk strategis bagi arus investasi hijau yang berkelanjutan," tambahnya.
Pemerintah menargetkan penurunan emisi sektor pertanian sebesar 10 juta ton CO2 ekuivalen pada 2030 sebagai bagian dari komitmen nasional dalam Nationally Determined Contribution (NDC).
Target ini juga sejalan dengan strategi jangka panjang Indonesia menuju ketahanan iklim dan pembangunan rendah karbon.
Selain itu, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menekankan integrasi pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan pangan, energi, dan air, serta transisi menuju ekonomi hijau dan Net Zero Emission dengan target penurunan emisi hingga 30,11 persen pada 2029.
Untuk mempercepat implementasi NEK, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan instrumen ekonomi karbon lintas sektor, termasuk sektor pertanian yang mencakup subsektor persawahan, peternakan, dan perkebunan.
Sejak 2019, Kementan telah menjalankan berbagai program penurunan emisi, seperti pengembangan biogas, peningkatan cadangan karbon tanah melalui pupuk organik, pengembangan desa organik, penggunaan varietas padi rendah emisi, perbaikan kualitas pakan ternak, hingga pengelolaan lahan gambut dan sekuestrasi karbon pada tanaman hortikultura serta perkebunan.
Upaya tersebut mencatatkan rata-rata penurunan emisi sebesar 71,13 juta ton CO2 ekuivalen pada periode 2019-2024. Meski demikian, implementasi perdagangan karbon di sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan.
Di antaranya adalah kompleksitas penghitungan emisi lintas sektor, keterbatasan data, fragmentasi lahan petani, kepastian hak atas karbon, fluktuasi harga karbon, serta keterbatasan kapasitas sumber daya manusia.
Selain itu, Kementan juga tengah menyiapkan sejumlah peta jalan strategis, seperti Net Zero Emission sektor pertanian, Enhanced NDC, hingga peta jalan implementasi NEK.
Ke depan, Kementan akan memperkuat sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) berbasis data real-time, mengembangkan praktik pertanian rendah emisi, serta meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh dalam literasi karbon. Skema insentif ekonomi seperti carbon pricing dan pembayaran berbasis hasil juga akan didorong.
"Keberhasilan implementasi NEK membutuhkan sinergi lintas sektor, penguatan kelembagaan, serta dukungan kebijakan yang konsisten. Kami mengharapkan dukungan Komisi IV DPR RI agar kebijakan ini dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi petani," tutup Sudaryono.
Kementan optimistis, melalui implementasi NEK yang terarah, sektor pertanian tidak hanya mampu menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar karbon global. (R)
Jakarta (buseronline.com) Langkah Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman memberantas mafia pangan mendapat dukungan dari Komisi
Hukum & Peristiwa 27 menit lalu
Jakarta (buseronline.com) Sebanyak 28 siswa sekolah menengah atas dari Tokyo, Jepang, mengikuti program student exchange visit di Indonesi
Pendidikan satu jam lalu
Bogor (buaeronline.com) Pemerintah memperkuat pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan keseha
Kesehatan 2 jam lalu
Jombang (buseronline.com) Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa strategi transformasi bangsa yang dijalankan pemer
Ekonomi 2 jam lalu
Kuningan (buseronline.com) Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) terus mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi motor pe
Ekonomi 2 jam lalu
Balige (buseronline.com) Perjuangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan mulai m
Pendidikan 3 jam lalu
Medan (buseronline.com) Wali Kota Medan resmi menjatuhkan hukuman disiplin berat kepada Camat Medan Timur Fernanda SSTP dan Lurah Aur Efri
Hukum & Peristiwa 3 jam lalu
Medan (buseronline.com) Kota Medan tampak mendung dan berkabut, Selasa (1/9/2026) siang. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran
Regional 3 jam lalu
Bandung (buseronline.com) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI terus memperkuat kualitas kepemimpinan di satuan p
Pendidikan 4 jam lalu
Jakarta (buseronline.com) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kebak
Kesehatan 4 jam lalu