Senin, 13 April 2026

Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat, Kementan Pangkas Target dari 4 Tahun Jadi 1 Tahun

Senin, 13 April 2026 17:12 WIB
Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat, Kementan Pangkas Target dari 4 Tahun Jadi 1 Tahun
Kementan berhasil mempercepat target swasembada pangan nasional dari semula empat tahun menjadi hanya satu tahun melalui berbagai langkah strategis dan terintegrasi.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mempercepat target swasembada pangan nasional dari semula empat tahun menjadi hanya satu tahun melalui berbagai langkah strategis dan terintegrasi.

Dilansir dari laman Kementan, kebijakan ini dijalankan di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto.

Percepatan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi sektor pertanian yang menghadapi berbagai tantangan pada awal pemerintahan, mulai dari penurunan produksi beras, keterbatasan pupuk, hingga kerusakan jaringan irigasi. Selain itu, distribusi sarana produksi juga dinilai belum optimal.

Mentan Amran menjelaskan, arahan percepatan swasembada pangan diberikan langsung oleh Presiden untuk menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Baca Juga: Kementan Dorong Hilirisasi Riset, Pakan Probiotik IPB Tingkatkan Produktivitas Ayam

"Bapak Presiden menugaskan agar swasembada pangan dicapai secepat-cepatnya. Kita siapkan lompatan bersama agar terwujud, petani sejahtera dan masyarakat tersenyum," ujarnya.

Sebagai langkah awal, Kementan melakukan deregulasi besar-besaran dengan menyederhanakan 547 regulasi, termasuk mencabut 291 aturan yang dinilai menghambat. Pemerintah juga menerbitkan 28 regulasi strategis untuk mempercepat produksi pangan nasional.

Di sektor pupuk, pemerintah mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton serta menurunkan harga hingga 20 persen. Akses petani juga dipermudah dengan penggunaan KTP sebagai syarat penebusan pupuk, menggantikan sistem sebelumnya yang dinilai menyulitkan.

Selain itu, pembangunan tujuh pabrik pupuk baru dilakukan guna menjamin ketersediaan pasokan dalam jangka panjang. Dari sisi anggaran, Kementan melakukan efisiensi sebesar Rp3,8 triliun yang dialihkan ke program produktif seperti penyediaan benih unggul, pompanisasi, dan alat mesin pertanian.

Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui optimalisasi lahan hingga 5 juta hektare, program pompanisasi pada 1 juta hektare lahan tadah hujan, serta pencetakan sawah baru hingga 3 juta hektare, termasuk di Kalimantan Tengah.

Pemerintah juga memperkuat infrastruktur dengan membangun dan merevitalisasi 61 bendungan serta memperbaiki jaringan irigasi yang sebelumnya mengalami kerusakan signifikan.

Modernisasi pertanian menjadi bagian penting dari transformasi, melalui pemanfaatan teknologi seperti drone, precision agriculture, dan smart farming. Teknologi ini dinilai mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Di sisi tata kelola, reformasi dilakukan melalui rotasi pejabat serta penertiban distribusi pupuk. Sementara di sektor hilir, Perum BULOG turun langsung membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan cadangan beras.

Hasil dari berbagai kebijakan tersebut terlihat dari meningkatnya produksi beras nasional sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen pada 2025. Cadangan beras pemerintah hingga April 2026 mencapai 4,59 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Nilai Tukar Petani (NTP) juga meningkat menjadi 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, sementara pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,74 persen.

Produksi beras nasional bahkan melampaui kebutuhan domestik yang berkisar 2,5–2,6 juta ton per bulan, menandakan surplus dan penguatan ketahanan pangan nasional.

Prediksi peningkatan produksi ini juga sejalan dengan laporan United States Department of Agriculture (USDA) yang menyebutkan produksi beras Indonesia musim tanam 2024/2025 mencapai 34,6 juta ton, tertinggi di kawasan ASEAN.

Atas capaian tersebut, pemerintah mendeklarasikan swasembada pangan nasional pada 7 Januari 2026 di Karawang, Jawa Barat.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa percepatan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada reformasi menyeluruh dalam kebijakan, distribusi, serta tata kelola sektor pertanian. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kementan Dorong Hilirisasi Riset, Pakan Probiotik IPB Tingkatkan Produktivitas Ayam
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
komentar
beritaTerbaru