Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyatakan bahwa Indonesia tengah menghadapi peluang besar di sektor pupuk global, menyusul terganggunya jalur distribusi internasional, khususnya di Selat Hormuz.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz, dengan sebagian besar pasokan berasal dari kawasan tersebut. Gangguan yang terjadi di wilayah itu berdampak signifikan terhadap pasokan pupuk global, terutama urea.
"Kondisi ini membuat banyak negara kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. Kita merupakan salah satu produsen urea terbesar di dunia," ujarnya dalam keterangan tertulis dilansir dari laman Kementan.
Baca Juga: Kementan Pastikan Kesiapan Penuh Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Ia menyebutkan sejumlah negara telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka, di antaranya India, Filipina, dan Australia.
"Pemerintah India sudah menghubungi kami. Saya juga menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapapun," kata Sudaryono.
Seiring meningkatnya permintaan global, pemerintah membatalkan rencana penutupan sejumlah pabrik pupuk dalam negeri. Menurut Sudaryono, tingginya kebutuhan pasar internasional membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi Indonesia.
Baca Juga: Ekspor CPO Awal 2026 Menguat, Raih Nilai US$4,69 M
"Pabrik-pabrik yang sebelumnya direncanakan untuk ditutup kini tetap beroperasi karena permintaan yang sangat tinggi," jelasnya.
Lebih lanjut, Sudaryono mengungkapkan bahwa perkembangan tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk adanya potensi komunikasi dari sejumlah pemimpin negara terkait kebutuhan pupuk.
Dalam setahun ke depan, Pupuk Indonesia Holding Company menargetkan ekspor pupuk mencapai 1,5 juta ton. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan pupuk bagi petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
"Kebutuhan pupuk petani di dalam negeri akan tetap dipenuhi terlebih dahulu sebelum ekspor dilakukan," tegasnya. (R)
beritaTerkait
komentar