Bogor (buseronline.com) - Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional terus diperkuat melalui peningkatan produksi dan kebijakan strategis yang tepat.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan terletak pada peningkatan produktivitas lahan serta optimalisasi frekuensi tanam.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono saat menghadiri seminar Ketahanan Pangan yang diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan di Bogor, Senin. Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, serta diikuti akademisi dan mahasiswa.
Baca Juga:
Dalam sambutannya, Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar menekankan bahwa intensifikasi pertanian menjadi langkah utama dalam meningkatkan produksi pangan nasional.
“Agar panen lebih banyak, maka yang harus dilakukan adalah menanam lebih banyak. Ini bisa dilakukan melalui peningkatan produktivitas di lahan yang sama serta meningkatkan frekuensi tanam dalam satu tahun,” ujarnya.
Baca Juga:
Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong kebijakan peningkatan produktivitas petani, termasuk meningkatkan hasil panen per hektare dan mengoptimalkan indeks pertanaman agar lahan dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
Lebih lanjut, dilansir dari laman Kementerian Pertanian, Sudaryono menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan sangat bergantung pada dukungan infrastruktur, khususnya irigasi.
Menurutnya, pembangunan bendungan yang telah dilakukan belum sepenuhnya optimal tanpa dukungan jaringan irigasi hingga tingkat tersier.
“Melalui Instruksi Presiden terkait irigasi, kini seluruh pihak baik pemerintah pusat maupun daerah dapat berperan dalam pembangunan jaringan irigasi. Dengan anggaran mencapai Rp12 T pada 2025, perbaikan irigasi diharapkan mampu memastikan ketersediaan air bagi petani,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa air merupakan faktor paling krusial dalam pertanian. “Petani bisa membeli benih dan pupuk sendiri, tetapi tanpa air, mereka tidak dapat menanam. Karena itu, irigasi menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Selain irigasi, reformasi kebijakan pupuk juga menjadi perhatian pemerintah. Penyederhanaan regulasi distribusi pupuk bersubsidi dilakukan agar penyaluran lebih cepat dan tepat sasaran, mulai dari pendataan oleh penyuluh hingga distribusi langsung ke kelompok tani.
Kebijakan lainnya yang dinilai mampu meningkatkan semangat petani adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini memberikan kepastian harga dan pendapatan bagi petani saat masa panen.
“Dengan kebijakan yang tepat, meskipun lahan dan jumlah petani tidak bertambah, target swasembada tetap bisa dicapai,” ungkapnya.
Sudaryono juga menyoroti peluang besar sektor pertanian bagi generasi muda, khususnya melalui komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa sawit. Indonesia saat ini menyumbang sekitar 60 persen pasokan sawit global, menjadikannya sebagai komoditas strategis di pasar dunia.
“Sering muncul pertanyaan bagaimana anak muda bisa sukses di pertanian. Salah satunya melalui komoditas seperti sawit yang mengikuti harga pasar global,” jelasnya.
Ia menambahkan, sawit memiliki efisiensi produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, serta memiliki beragam produk turunan, mulai dari minyak goreng hingga produk industri seperti sabun dan kosmetik.
Sementara itu, Titiek Soeharto menegaskan bahwa keberhasilan sektor pangan membutuhkan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang tepat, serta sinergi lintas sektor.
Menurutnya, penguatan sektor pangan harus dilakukan secara terstruktur melalui peningkatan produksi dalam negeri, modernisasi pertanian, perbaikan tata kelola pupuk bersubsidi, penguatan peran penyuluh, perlindungan harga petani, serta penguatan cadangan pangan nasional.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi kebijakan dari hulu hingga hilir agar sistem pangan nasional berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kepada mahasiswa Unhan, Titiek mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan bangsa, termasuk dalam bidang ketahanan pangan.
“Pangan bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga bagian dari strategi pertahanan bangsa,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis swasembada pangan dapat tercapai, sekaligus memperkuat ketahanan nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar