Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyatakan kesiapan menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan mulai berdampak pada April mendatang. Pemerintah memperkuat langkah mitigasi dengan menitikberatkan pada kecepatan intervensi, optimalisasi sarana prasarana, serta kesiapan petani dalam memanfaatkan bantuan yang telah disalurkan.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menegaskan bahwa pihaknya memberikan perhatian serius terhadap potensi kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan nasional. Menurutnya, mitigasi harus didukung kesiapan teknis di lapangan.
“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa bantuan pompa air bukan sekadar fasilitas, melainkan instrumen produksi yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara kolektif oleh petani. Selain itu, kesiapan sumber air dan pengelolaan distribusi air di tingkat lapangan menjadi faktor penting agar pompa dapat berfungsi maksimal.
“Optimalkan pemanfaatan pompa yang sudah ada. Pastikan sumber air disiapkan, saluran diperbaiki, dan distribusi air diatur dengan baik. Ini kunci agar lahan tetap produktif meskipun tekanan iklim meningkat,” tegasnya.
Kementan juga mengimbau petani dan pemangku kepentingan daerah untuk segera melakukan langkah antisipatif, seperti mengidentifikasi sumber air, memperbaiki galengan, serta mengatur pola tanam dan pergiliran air secara efektif.
Sementara itu, dilansir dari laman Kementerian Pertanian, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pelajaran penting dalam merumuskan strategi saat ini.
Ia mengingatkan, pada saat itu Indonesia menghadapi ancaman kekeringan yang cukup berat hingga sempat merencanakan impor beras dalam jumlah besar. Namun, melalui langkah cepat seperti pompanisasi, perbaikan irigasi, dan optimalisasi lahan, pemerintah berhasil menekan kebutuhan impor secara signifikan.
“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya. Kita sempat merencanakan impor 10 juta ton, tapi dengan kerja keras dan intervensi cepat, akhirnya hanya sekitar 3 juta ton,” jelasnya.
Menurut Amran, pengalaman tersebut membuktikan bahwa respons cepat dan pemanfaatan infrastruktur pertanian menjadi kunci dalam menjaga produksi dan ketahanan pangan di tengah tekanan iklim ekstrem.
Dengan potensi El Nino yang kembali menguat, Kementan memastikan seluruh jajaran telah disiagakan untuk memperkuat mitigasi di lapangan. Pemerintah juga mengajak petani untuk tidak menunggu dampak terjadi, melainkan mulai bergerak sejak dini dengan memanfaatkan sarana yang telah tersedia.
Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi pangan nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah dinamika perubahan iklim global. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar