Senin, 06 April 2026

Ekspor CPO Awal 2026 Menguat, Raih Nilai US$4,69 M

Dirgahayu Ginting - Jumat, 03 April 2026 07:12 WIB
Ekspor CPO Awal 2026 Menguat, Raih Nilai US$4,69 M
Pekerja mengangkut tandan buah segar kelapa sawit di area perkebunan sebagai bagian dari peningkatan produksi yang mendorong kinerja ekspor CPO Indonesia pada awal tahun 2026. (Dok/Kementerian Pertanian)
Jakarta (buseronline.com) - Kinerja ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor CPO dan turunannya pada periode Januari–Februari 2026 mencapai US$4,69 M, meningkat 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa peningkatan tersebut menjadi salah satu pendorong utama kinerja ekspor komoditas unggulan Indonesia.

“Kinerja ekspor komoditas unggulan selama Januari–Februari 2026, antara lain nilai ekspor CPO dan turunannya naik cukup tinggi yaitu sebesar 26,40 persen secara kumulatif,” ujar Ateng dalam rilis resmi di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Secara rinci, nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$4,69 M, naik dari US$3,71 M pada periode yang sama tahun 2025.

Dari sisi volume, ekspor juga mengalami peningkatan signifikan, dari 3,33 juta ton pada awal 2025 menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama tahun 2026.

Peningkatan ini menunjukkan tingginya permintaan global terhadap produk berbasis sawit sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama di pasar internasional.

Kenaikan ekspor CPO turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas nasional. BPS mencatat ekspor nonmigas pada Januari–Februari 2026 mencapai US$42,35 M, atau tumbuh 2,82 persen secara tahunan (year on year).

Ateng menjelaskan, sektor industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nonmigas dengan kontribusi sebesar 5,36 persen.

“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari hingga Februari 2026,” katanya.

Selain produk sawit, dilansir dari laman Kementerian Pertanian, pertumbuhan ekspor juga didukung komoditas lain seperti nikel, kendaraan bermotor, semikonduktor dan komponen elektronik, serta kimia dasar organik berbasis hasil pertanian.

Pada Februari 2026, total ekspor nonmigas tercatat sebesar US$21,09 M. Dari jumlah tersebut, sektor industri pengolahan mendominasi dengan nilai US$18,55 M, diikuti sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$2,15 M, serta sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan sebesar US$0,39 M.

Capaian ini menegaskan peran strategis sektor industri pengolahan dalam menopang kinerja ekspor nasional.

Sejalan dengan peningkatan ekspor tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan hilirisasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sawit.

“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia,” ujarnya.

Ke depan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan terus memperkuat ekosistem produksi, pengolahan, hingga pemasaran komoditas strategis guna meningkatkan daya saing dan memperkokoh ekonomi nasional berbasis sektor pertanian.

Dengan tren pertumbuhan yang positif ini, CPO dan produk turunannya kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu komoditas unggulan yang menopang ekspor Indonesia di awal tahun 2026. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar