Senin, 06 April 2026

Tekan Impor Solar, Kementan Genjot Hilirisasi CPO untuk Perkuat Ekonomi Nasional

Dirgahayu Ginting - Jumat, 03 April 2026 07:00 WIB
Tekan Impor Solar, Kementan Genjot Hilirisasi CPO untuk Perkuat Ekonomi Nasional
Seorang pekerja memperlihatkan hasil panen tandan buah segar kelapa sawit di area perkebunan sebagai bagian dari penguatan hilirisasi CPO untuk mendukung kemandirian energi dan ekonomi nasional. (Dok/Kementerian Pertanian)
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan hilirisasi kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) menjadi strategi kunci dalam memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch Arief Cahyono, mengatakan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis dalam mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.

“Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi CPO adalah langkah konkret untuk mentransformasi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen utama produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan pasar global,” ujarnya.

Arief menjelaskan, pengolahan CPO menjadi berbagai produk turunan seperti pangan olahan, kosmetik, sabun, oleokimia, hingga bioenergi akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Menurutnya, dengan penguasaan lebih dari 60 persen pasar CPO dunia, Indonesia memiliki daya tawar besar dalam menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit di pasar global.

“Hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan, bahkan bisa mencapai lebih dari 30 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah,” tegasnya.

Lebih lanjut, dilansir dari laman Kementerian Pertanian, hilirisasi sawit juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional melalui pengembangan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar.

“Pemanfaatan biofuel sawit secara optimal berpotensi menggantikan impor solar secara signifikan. Bahkan, dengan implementasi penuh B50, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor solar,” jelas Arief.

Pemerintah mencatat implementasi B50 membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO yang dapat dialihkan dari ekspor untuk diolah menjadi biofuel, sehingga mampu menghemat devisa dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kinerja sektor sawit nasional menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton atau meningkat 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, total produksi CPO dan PKO mencapai 56,55 juta ton atau naik 7,18 persen. Dari sisi ekspor, volume produk sawit mencapai 32,34 juta ton atau meningkat 9,51 persen, dengan nilai mencapai 35,87 miliar dolar AS atau sekitar Rp590 T.

Peningkatan tersebut turut mendorong kesejahteraan petani, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,45 pada Februari 2026.

Selain sektor energi, penguatan produksi pangan nasional juga memberi dampak terhadap pasar global. Penurunan impor beras Indonesia pada 2025, seiring peningkatan produksi dalam negeri hingga 34,69 juta ton, turut memengaruhi harga beras internasional.

Dengan berkurangnya permintaan Indonesia sekitar 3–4 juta ton per tahun, atau setara 5–7 persen pasar global, harga beras dunia mengalami tekanan.

Kementan menilai hilirisasi sawit memberikan efek berganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari peningkatan nilai tambah ekonomi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan kedaulatan ekonomi nasional.

“Kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merupakan bagian dari strategi besar pembangunan nasional berbasis pertanian. Nilai tambah tertinggi berada di hilir, dan di situlah Indonesia harus mengambil peran utama,” kata Arief.

Ke depan, pemerintah akan terus mendorong percepatan investasi di sektor hilirisasi serta memperkuat sinergi dengan pelaku usaha guna mewujudkan kemandirian energi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dengan kekuatan komoditas strategis seperti sawit dan beras, Indonesia dinilai tidak hanya menjadi bagian dari pasar global, tetapi juga berperan dalam menentukan arah dinamika ekonomi dunia. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar