Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) mencatat kinerja pembangunan daerah yang tinggi pada tahun 2025 dengan skor 3,6672 berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri. Capaian tersebut berdampak positif terhadap penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di wilayah tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Jawa Barat pada 2025 tercatat sebesar 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 7,08 persen.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menyampaikan bahwa berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah untuk menekan angka kemiskinan, mulai dari pengurangan kantong kemiskinan, penurunan beban pengeluaran, hingga peningkatan pendapatan masyarakat.
Dalam upaya mengurangi kantong kemiskinan, dilansir dari laman Jabarprov, Pemprov Jabar melakukan pengawasan terhadap wilayah rawan pangan serta menyusun peta kerawanan dan ketahanan pangan.
Selain itu, untuk menekan pengeluaran masyarakat, Pemprov Jabar menggelar Gerakan Pangan Murah sebanyak 1.874 kali di 27 kabupaten/kota serta Operasi Pasar Bersubsidi, sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau.
Di sektor kesehatan, pemerintah daerah juga menanggung iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin. “Pemda Provinsi Jawa Barat membiayai iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat miskin,” ujar Erwan, Senin.
Sementara itu, di sektor energi dan sumber daya mineral, Pemprov Jabar meningkatkan akses listrik bagi masyarakat tidak mampu. Tercatat sebanyak 76.123 sambungan listrik telah diidentifikasi untuk disalurkan di 1.367 desa/kelurahan.
Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, Pemprov Jabar juga memberikan pelatihan bagi pekerja migran Indonesia serta menyalurkan bantuan modal usaha kepada 57 Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Selain kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat juga mengalami penurunan. Pada 2025, angka pengangguran tercatat sebesar 6,66 persen, turun dari 6,75 persen pada 2024. Capaian ini bahkan melampaui target yang ditetapkan sebesar 6,99 persen.
Penurunan pengangguran didorong oleh meningkatnya penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,10 juta orang, sektor pendidikan 0,05 juta orang, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 0,04 juta orang.
Namun demikian, terdapat sektor yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja, yakni sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,04 juta orang.
Adapun sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat meliputi sektor reparasi dan perawatan mobil serta motor sebesar 22,44 persen, industri pengolahan sebesar 18,61 persen, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 15,43 persen.
Dengan capaian tersebut, Pemprov Jawa Barat optimistis dapat terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar