Korea (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung pengumuman dan pertukaran 10 nota kesepahaman (MoU) antara Republik Indonesia dan Republik Korea dalam kunjungan kenegaraan ke Istana Kepresidenan Republik Korea, Cheong Wa Dae (Blue House), Rabu.
Pertukaran MoU ini menjadi wujud nyata penguatan kemitraan strategis kedua negara yang berorientasi jangka panjang, mencakup sektor prioritas mulai dari ekonomi, energi, digital, hingga kesehatan dan industri masa depan.
Adapun 10 MoU yang dipertukarkan meliputi:
Baca Juga:
1. Pembentukan Dialog Strategis Komprehensif Khusus
2. Kerja Sama Ekonomi 2.0
Baca Juga:
3. Kemitraan dalam Mineral Kritis
4. Pengembangan Digital
5. AI untuk Kesehatan Dasar dan Pembangunan Manusia
6. Penguatan Kerja Sama Energi Bersih
7. Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS)
8. Industri Jasa Pembangkit Lepas Pantai
9. Perlindungan dan Penegakan Hak Kekayaan Intelektual
10. Kerja Sama Keuangan (Danantara–Exim Bank of Korea)
Kementerian Luar Negeri Indonesia menekankan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk membangun masa depan yang tangguh melalui kemitraan yang kuat dan saling menguntungkan.
“Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, memperkuat ketahanan industri, serta mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis teknologi dan energi bersih,” kata juru bicara Kemlu Indonesia.
Selain itu, instrumen kerja sama ini juga menjadi langkah nyata untuk memperdalam hubungan bilateral Indonesia–Republik Korea, sekaligus memperkuat posisi kedua negara sebagai mitra strategis dalam menghadapi tantangan global.
Melalui kesepakatan tersebut, kedua negara menegaskan arah bersama menuju pembangunan berkelanjutan, peningkatan daya saing industri, dan kolaborasi jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat masing-masing negara.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Korea juga menegaskan komitmen Indonesia dalam memperluas diplomasi ekonomi dan teknologi, sekaligus memperkuat kerja sama bilateral yang strategis di Asia Timur. (DKI1)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar