Senin, 06 April 2026

Riyono Paparkan Tiga Langkah Strategis Hadapi Krisis Pangan Global di Tengah Perang Teluk

Dirgahayu Ginting - Senin, 30 Maret 2026 10:06 WIB
Riyono Paparkan Tiga Langkah Strategis Hadapi Krisis Pangan Global di Tengah Perang Teluk
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono.
Jakarta (buseronline.com) - Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menyoroti kondisi pangan global yang dinilai berada dalam ancaman serius akibat konflik geopolitik yang belum mereda.

Ia menyebut perang antara Iran–Israel dan Amerika Serikat, serta konflik Ukraina dan Rusia, telah memicu ketidakpastian yang berdampak pada lonjakan harga pangan dunia.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, Minggu (29/3/2026), Riyono menyampaikan bahwa konflik global tersebut telah mengganggu keseimbangan distribusi pangan dunia dan berpotensi memicu krisis berkepanjangan.

“Artinya dunia gagal mengatur perputaran pangan global. Adanya perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global sehingga negara produsen pangan berprinsip menahan pangan untuk mereka sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan harga pangan meningkat, ketersediaan menurun, dan permintaan global terus meningkat. Ia juga menilai komoditas pangan kini tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi telah berubah menjadi instrumen politik yang dapat merugikan negara berkembang, termasuk petani sebagai produsen utama.

“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata untuk menguasai suatu negara atas nama impor, sementara petani tetap berada dalam kondisi rentan,” tambah politisi Fraksi PKS tersebut.

Dilansir dari laman DPR RI, Riyono juga menyinggung kegagalan pencapaian target global dalam mengatasi kelaparan. Program Millennium Development Goals (MDGs) dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan tersebut, sementara target Sustainable Development Goals (SDGs) ke-2 pada 2030 terancam kembali gagal akibat perubahan ekstrem dalam peta pangan global.

Ia menyebutkan, sekitar satu miliar penduduk dunia saat ini berada dalam ancaman kelaparan, bahkan sebagian di antaranya mengalami kematian akibat krisis pangan.

Untuk mengantisipasi dampak krisis global terhadap Indonesia, Riyono mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, memperkuat ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan pangan nasional.

Ia menekankan pentingnya menjaga cadangan beras nasional yang saat ini telah mencapai 4 juta ton, baik dari sisi kualitas maupun manajemen pengelolaannya.

Kedua, memberikan perlindungan kepada petani melalui skema insentif harga hasil pertanian yang menguntungkan. Menurutnya, stabilitas harga gabah kering panen (GKP) dan jagung perlu dipertahankan, serta didukung dengan program asuransi pertanian guna mengantisipasi risiko gagal panen akibat perubahan iklim.

Ketiga, menjaga alokasi anggaran sektor pertanian dan perikanan agar tidak terkena efisiensi. Riyono menegaskan bahwa anggaran sebesar Rp60 T untuk sektor tersebut harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan jika diperlukan, guna menghadapi potensi krisis pangan global.

“Ketiga langkah ini diharapkan mampu melindungi Indonesia dari dampak krisis pangan dunia. Negara harus hadir memastikan masyarakat tidak terbebani harga pangan tinggi akibat gejolak global,” tegasnya.

Ia menambahkan, upaya menjaga ketahanan pangan menjadi tanggung jawab bersama agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, termasuk di wilayah pedesaan dan daerah terluar Indonesia. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
Tags
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar