Majalengka (buseronline.com) - Panen raya padi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mencatatkan produktivitas tinggi hingga 11,5 ton per hektare (ha). Capaian ini menjadi bagian dari tren peningkatan produksi nasional yang berkontribusi dalam memperkuat ketersediaan serta stok beras nasional sepanjang 2026.
Berdasarkan hasil ubinan di sejumlah lokasi, produktivitas padi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Desa Pakubeureum, Kecamatan Kertajati, lahan milik H Sawir Wirahandi dengan varietas Jangkar menghasilkan 10,78 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP).
Sementara itu, di Desa Leuweunggede, Kecamatan Jatiwangi, lahan milik Agus Mulyana seluas 36 hektare dengan varietas Inpari 32 mencatatkan hasil ubinan 7,2 kilogram atau setara 11,5 ton/ha GKP.
Baca Juga:
Tingginya produktivitas tersebut mencerminkan peningkatan kinerja budidaya di tingkat petani. Hal ini tidak terlepas dari dukungan program pemerintah, mulai dari penyediaan sarana produksi, perbaikan tata kelola budidaya, hingga pendampingan intensif di sentra produksi.
Selain peningkatan produksi, dilansir dari laman Kementerian Pertanian, harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani juga berada pada kisaran Rp7.500 hingga Rp7.800 per kilogram. Kondisi ini dinilai memberikan nilai tambah ekonomi yang cukup baik bagi petani.
Baca Juga:
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa capaian produksi di berbagai daerah, termasuk Majalengka, menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Kementerian Pertanian memastikan kondisi pangan nasional, khususnya beras, dalam posisi aman. Produksi saat ini berada di atas kebutuhan konsumsi nasional sehingga stok tetap terjaga,” ujar Mentan Amran, Selasa (17/3/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat tren positif tersebut. Luas panen pada periode Februari hingga April 2026 diperkirakan mencapai 3,92 juta hektare, dengan potensi produksi beras pada kuartal I (Januari–Maret) 2026 sebesar 10,16 juta ton atau meningkat 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan kebutuhan beras nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan, produksi yang berada pada kisaran 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan memastikan kondisi stok nasional tetap dalam keadaan surplus dan aman.
Pemerintah terus mengoptimalkan momentum panen raya di berbagai daerah sebagai pengungkit utama peningkatan produksi nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui percepatan penyerapan hasil panen, penguatan distribusi, serta stabilisasi harga di tingkat petani, guna menjaga ketersediaan beras sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional secara berkelanjutan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar