Rabu, 08 April 2026

Di Tengah Konflik Geopolitik, Wamenkeu Juda Agung Yakinkan Ekonomi Indonesia Tetap Resilien

Sabtu, 07 Maret 2026 09:06 WIB
Di Tengah Konflik Geopolitik, Wamenkeu Juda Agung Yakinkan Ekonomi Indonesia Tetap Resilien
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan paparan dalam Rapat Pimpinan Nasional PB Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (Dok/Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilien meskipun dunia saat ini menghadapi ketidakpastian global, termasuk meningkatnya konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi internasional.

Hal tersebut disampaikan Juda Agung saat memberikan paparan dalam Rapat Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) yang digelar di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang stabil dengan sejumlah indikator makroekonomi yang terjaga.

“Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilien. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan defisit fiskal masih di bawah batas yang ditetapkan undang-undang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dilansir dari laman Kemenkeu, pemerintah terus mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara hati-hati (prudent) dan fleksibel untuk menghadapi dinamika global yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.

Terkait potensi dampak konflik geopolitik terhadap kenaikan harga minyak dunia, Juda Agung mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi guna menjaga stabilitas fiskal nasional. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia masih mampu mengantisipasi kenaikan harga minyak hingga kisaran 80–90 dolar Amerika Serikat per barel dengan defisit tetap terjaga di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di tengah berbagai risiko global tersebut, kinerja ekonomi domestik tetap menunjukkan tren positif. Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tercatat sekitar 5,11 persen, dengan pertumbuhan pada triwulan IV mencapai sekitar 5,39 persen.

Sementara itu, defisit fiskal nasional tetap terkendali di level sekitar 2,92 persen dari PDB, masih berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

Dari sisi utang, rasio utang pemerintah terhadap PDB juga dinilai masih berada pada tingkat yang aman, yakni sekitar 40 persen. Angka tersebut jauh di bawah batas maksimal 60 persen yang ditetapkan dalam regulasi fiskal nasional.

Menurut Juda Agung, kondisi tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia yang relatif baik dibandingkan sejumlah negara lain dengan peringkat kredit yang setara.

Ia menambahkan, stabilitas fundamental ekonomi ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mencapai target menjadi negara maju pada tahun 2045. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran 5.000 dolar Amerika Serikat per tahun, sementara standar negara maju berada di atas 13.000 dolar Amerika Serikat per kapita per tahun.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu memanfaatkan momentum bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga periode 2035–2040.

“Kalau kita melewatkan periode ini, kita berisiko menjadi negara yang tua sebelum kaya,” kata Juda.

Oleh karena itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bahkan hingga mencapai sekitar 8 persen, guna menghindari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Dalam rangka mendukung agenda pembangunan tersebut, pemerintah juga telah merancang kebijakan fiskal melalui APBN 2026 yang diarahkan untuk memperkuat pembangunan jangka panjang. Total belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.847 T dengan penerimaan negara sekitar Rp3.153 T.

Dengan komposisi tersebut, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga pada kisaran 2,68 persen dari PDB.

Menutup paparannya, Juda Agung menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2026 berpotensi melampaui capaian pada akhir tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan didorong oleh momentum konsumsi masyarakat selama Ramadan serta pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), dengan proyeksi pertumbuhan berada pada kisaran 5,5 persen. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Pemprov Sumut Perkuat Program Keluarga dan KB Dukung Indonesia Emas 2045
Peran Desa Diperkuat, Pemerintah Genjot Eliminasi TB
Darurat TB di Indonesia, Pemerintah Percepat Eliminasi Nasional
Nawal Arafah Yasin Ajak Santri Jadi Penggerak Literasi Pesantren
Nawal Yasin Tulis Pesan Inspiratif pada Halalbihalal IGPAUD Muslimat NU Kaliwungu
Bupati Ciamis Ajak Guru Perketat Pengawasan Gawai Pelajar
komentar
beritaTerbaru