Rembang (buseronline.com) - Upaya Pemerintah Kabupaten Rembang dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana terus menunjukkan hasil positif.
Hingga akhir 2025, sebanyak 31 Desa Tangguh Bencana (Destana) telah terbentuk dan aktif di berbagai wilayah rawan bencana di Kabupaten Rembang.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, saat ditemui di kantornya, Senin.
Ia menjelaskan, keberadaan Destana terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi dan menangani bencana secara mandiri di tingkat desa.
Menurutnya, masyarakat desa yang telah memiliki Destana tidak hanya memahami potensi risiko bencana di wilayahnya, tetapi juga mampu melakukan penanganan awal secara cepat, terkoordinasi, dan bergotong royong.
“Alhamdulillah, desa-desa yang sudah terbentuk Destana secara mandiri mampu menyelesaikan kejadian bencana di wilayahnya. Biasanya mereka melaporkan telah terjadi longsor atau bencana lain, tetapi penanganan awal sudah dilakukan melalui kerja bakti warga,” ujar Sri Jarwati yang akrab disapa Anjar.
Ia mengungkapkan, pembentukan Destana di Kabupaten Rembang telah dimulai sejak 2018, dengan Desa Bendo, Kecamatan Sluke, sebagai desa perintis. Selanjutnya, pada 2020, BPBD Provinsi Jawa Tengah membentuk Destana di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu.
Program tersebut kemudian berkembang signifikan pada 2022, dengan penetapan 12 desa sebagai Destana. Desa-desa tersebut meliputi Desa Dowan (Kecamatan Gunem), Bitingan (Sale), Johogunung (Pancur), Manggar (Sluke), dan Lemah Putih (Sedan). Selain itu, tiga desa di Kecamatan Sumber yakni Desa Ronggomulyo, Kedungtulup, dan Sekarsari, serta empat desa di Kecamatan Kaliori, yaitu Desa Kuangsan, Maguan, Wiroto, dan Meteseh.
Pembentukan Destana kembali berlanjut pada 2023 dengan penambahan 12 desa baru. Dua desa dibentuk langsung oleh BPBD Kabupaten Rembang di Kecamatan Pancur, yakni Desa Criwik dan Banyuurip.
Sementara itu, sepuluh desa lainnya dibentuk melalui kolaborasi BPBD Kabupaten Rembang dan BPBD Provinsi Jawa Tengah, yang tersebar di enam desa di Kecamatan Kaliori, tiga desa di Kecamatan Pancur, dan tiga desa di Kecamatan Sluke.
Pada 2024, dilansir dari laman Diskominfo Jateng, Destana kembali dibentuk di dua desa, yakni Desa Dadapan (Kecamatan Sedan) dan Desa Sale (Kecamatan Sale).
Sedangkan pada 2025, BPBD Kabupaten Rembang membentuk Destana di Desa Leran, Kecamatan Sluke, dan Desa Sendangmulyo, Kecamatan Lasem.
Selain itu, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, ditetapkan sebagai Destana Mandiri karena proses pembentukannya dilakukan langsung oleh pemerintah desa setempat.
Anjar menambahkan, pihaknya terus melakukan percepatan pembentukan Destana guna memenuhi target 100 Desa Tangguh Bencana sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rembang.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) tahun 2025, tercatat sebanyak 130 dari total 199 desa di Kabupaten Rembang tergolong rawan bencana. Desa-desa tersebut akan diarahkan untuk membentuk Destana secara mandiri sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
“Harapannya, semakin banyak desa yang tangguh, maka semakin kecil pula dampak bencana yang ditimbulkan. Masyarakat bisa lebih siap, sigap, dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah,” pungkasnya. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar