Pekanbaru (buseronline.com) - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE), meresmikan Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Lapangan Minas Area A di Zona Rokan, Selasa. Peresmian yang berlangsung di Rumbai tersebut menandai komitmen PHR dalam mengoptimalkan produksi minyak guna mendukung ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Lapangan Minas yang telah berproduksi sejak tahun 1952 merupakan lapangan kategori mature atau tua. Meski demikian, lapangan ini masih menyimpan potensi cadangan minyak yang signifikan di bawah permukaan. Melalui penerapan teknologi CEOR, PHR menargetkan peningkatan perolehan minyak sebesar 12 hingga 16 persen dari Original Oil in Place (OOIP).
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menegaskan, Lapangan Minas merupakan salah satu aset terpenting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia yang selama puluhan tahun telah memberikan kontribusi besar bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional.
“Namun kita juga menyadari bahwa Minas adalah lapangan yang sudah mature. Keberlanjutan produksinya hanya dapat dijaga melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat. Oleh karena itu, kita bersyukur hari ini dapat meresmikan penerapan Chemical EOR Tahap I di Area A Lapangan Minas,” ujar Djoko.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya kepada seluruh pekerja Pertamina atas kerja keras dan inovasi yang dilakukan, khususnya dalam mengembangkan formula bahan kimia secara mandiri untuk mendukung keberlanjutan Wilayah Kerja (WK) Rokan.
Menurutnya, penerapan CEOR tidak sekadar menjawab kebutuhan teknis, melainkan menjadi manifestasi nyata komitmen negara dalam menjalankan Asta Cita dan memperkuat kemandirian energi nasional guna mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030.
“Kami bangga atas usaha dan kerja keras Perwira Pertamina yang mampu membuat formula sendiri setelah sebelumnya menghadapi berbagai kendala. Jangan berhenti berinovasi dalam memecahkan masalah. Masa depan dan kemandirian energi berada di tangan para pekerja Pertamina sebagai pahlawan energi kebanggaan kita semua,” pesannya.
Sementara itu, mewakili masyarakat Riau, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Haryanto menyatakan dukungan penuh terhadap proyek CEOR Lapangan Minas sebagai bentuk sinergi pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam pengelolaan energi berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Riau memahami betul posisi strategis industri migas, termasuk proyek CEOR. Keberhasilan proyek ini, menurutnya, bukan hanya menjadi capaian PHR, tetapi juga menjadi harapan besar bagi masa depan ekonomi Riau.
SF Haryanto berharap peningkatan produksi dari penerapan teknologi CEOR akan berdampak positif terhadap keberlanjutan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas, yang pada akhirnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan infrastruktur jalan, sekolah, serta fasilitas kesehatan.
“Melalui Satgas Percepatan Operasi Hulu Migas, Pemprov Riau berkomitmen menciptakan iklim operasi yang kondusif. Kami hadir sebagai mitra strategis untuk memperlancar koordinasi lintas sektoral, memastikan keamanan investasi, dan memberikan dukungan penuh agar operasi hulu migas di Riau berjalan aman dan optimal,” ujarnya.
Secara global, teknologi CEOR telah diterapkan oleh sejumlah perusahaan energi terkemuka dunia. Keberhasilan teknologi ini, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menilai keberhasilan pengembangan CEOR di Wilayah Kerja Rokan bukan hanya pencapaian teknis semata, tetapi juga simbol transformasi Pertamina dalam mengelola aset hulu secara unggul, berdaya saing global, dan berkelanjutan.
“Keberhasilan CEOR di WK Rokan semakin mengukuhkan Pertamina sebagai perusahaan migas kelas dunia yang mampu mengelola aset hulu secara profesional dan inovatif,” kata Oki.
Dalam proyek CEOR ini, PHR menggunakan kombinasi tiga bahan kimia, yakni alkali, surfaktan, dan polimer (ASP) yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk menyapu minyak keluar dari pori-pori batuan.
Oki menambahkan, surfaktan sebagai komponen utama teknologi CEOR tersebut merupakan hasil inovasi Perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian di laboratorium maupun di lapangan, sehingga memastikan keandalan dan kesiapan teknologi untuk diterapkan secara komersial.
Penerapan CEOR di Minas Area A dengan skala komersial menjadikan PHR sebagai pelopor teknologi CEOR di Indonesia. Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan CEOR di area lain di Wilayah Kerja Rokan, seperti Minas Area B, C, dan D, Balam South, Balam, Bangko, hingga Petani.
Dari sisi produksi, proyek CEOR ini ditargetkan mampu memberikan kontribusi sekitar 70 ribu barel minyak per hari (bph) pada 2030, dan mencapai puncak produksi hingga 200 ribu bph pada 2036.
Capaian tersebut diharapkan memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kinerja Pertamina dan PHR, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional, peningkatan penerimaan negara, serta penguatan kapasitas teknologi dalam negeri.
Lapangan Minas yang dikenal sebagai penghasil Sumatra Light Crude memiliki luas wilayah 204,37 kilometer persegi, dengan 1.243 sumur aktif dan rata-rata produksi harian sekitar 29 ribu barel minyak per hari. Seluruh produksi Zona Rokan dialirkan melalui jaringan pipa menuju Hydrocarbon Transportation (HCT) Crude Oil Terminal Operation Center di Dumai sebelum didistribusikan ke kilang Pertamina. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar