Rabu, 27 Mei 2026

Nawal Yasin Tingkatkan Strategi Pendampingan, Jateng Kukuh sebagai Sentra Batik Nasional

Rabu, 17 Desember 2025 09:21 WIB
Nawal Yasin Tingkatkan Strategi Pendampingan, Jateng Kukuh sebagai Sentra Batik Nasional
Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menyampaikan arahan saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Jateng 2025–2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (15/12/2025). (Dok/Diskomin
Semarang (buseronline.com) - Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menegaskan posisinya sebagai sentra produksi batik terbesar di Indonesia. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat strategi pendampingan bagi produsen dan pengrajin batik lokal guna menjaga keberlanjutan usaha, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas pasar hingga tingkat global.

Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian, Jawa Tengah tercatat memiliki 2.299 unit produsen batik. Jumlah tersebut jauh melampaui provinsi lain, seperti Jawa Timur dengan 216 produsen, Daerah Istimewa Yogyakarta 180 produsen, dan Jawa Barat 115 produsen batik.

Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan besarnya jumlah produsen batik di daerahnya merupakan potensi sekaligus tantangan. Oleh karena itu, Dekranasda terus menguatkan strategi pendampingan secara berkelanjutan agar batik Jawa Tengah mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

“Salah satu tantangan utama saat ini adalah literasi digital. Belum semua pelaku UMKM batik mampu menguasai pemasaran digital, padahal ini sangat penting untuk memperluas jangkauan pasar,” ujar Nawal seusai Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Jateng 2025–2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin.

Selain penguatan digital marketing, Dekranasda Jateng juga fokus meningkatkan kualitas produk melalui standarisasi. Dalam upaya ini, Dekranasda menggandeng Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan proses kurasi produk agar batik yang dihasilkan memenuhi standar mutu dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Strategi pendampingan lainnya adalah mendorong regenerasi pengrajin batik. Nawal mengungkapkan, dalam kurun waktu 2020 hingga 2024, jumlah pengrajin batik di Jawa Tengah mengalami penurunan signifikan hingga 40 persen, dari 82.550 pengrajin menjadi 49.530 pengrajin.

“Karena itu kami mendorong regenerasi melalui pendidikan. Kurikulum membatik sudah masuk di sekolah-sekolah, serta pelatihan yang dilakukan melalui SMK-SMK agar generasi muda tertarik dan memiliki keterampilan membatik,” jelasnya.

Dekranasda Jateng juga memperbanyak pelatihan desain busana siap pakai (ready to wear) bagi perancang yang bergerak di industri batik. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan produk fesyen batik yang lebih adaptif dengan selera pasar dan siap dipasarkan maupun dipamerkan.

Untuk mendukung promosi produk UMKM batik, pada 2026 Dekranasda Jateng telah menyiapkan tiga agenda pameran unggulan, yakni Dekranasda Jateng Modest Fest pada bulan Ramadan, Jateng InFashion, serta UMKM Jateng Fair yang akan digelar di Sarinah, Jakarta.

Nawal juga menekankan pentingnya pelestarian batik daerah yang memiliki motif dan ciri khas masing-masing. Ia mencontohkan batik tulis Rifa’iyah Batang yang terus dijaga keberadaannya, mengingat empat motif tradisionalnya telah hilang.

Berbagai upaya pendampingan tersebut dinilai turut mendorong peningkatan produksi dan ekspor batik Jawa Tengah. Pada 2024 lalu, ekspor batik Jateng tercatat meningkat hingga 76 persen.

“Batik masih menjadi salah satu komoditas paling diminati di pasar ekspor. Ini potensi besar yang harus terus kita jaga dan kembangkan,” ungkap Nawal yang juga menjabat Ketua TP PKK dan TP Posyandu Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengapresiasi langkah Dekranasda yang konsisten melakukan pembinaan dan memfasilitasi produk UMKM untuk tampil dalam berbagai pameran nasional maupun internasional.

Ia menyebutkan, dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap pelaku UMKM juga diwujudkan melalui akses permodalan, salah satunya melalui Bank Jateng. Dari Januari hingga Oktober 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah mencapai Rp34,3 T kepada 667.067 debitur.

Selain mendorong ekonomi menengah ke bawah, Pemprov Jateng juga terus menggenjot ekonomi menengah ke atas dengan memasarkan potensi kawasan industri serta menyiapkan kawasan industri baru guna menarik investasi.

“Ini dilakukan agar pemerataan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat Jawa Tengah, sehingga pembangunan berjalan menyeluruh,” tandas Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin.

Melalui penguatan pendampingan, promosi, dan kolaborasi lintas sektor, Jawa Tengah optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai pusat batik nasional sekaligus menggerakkan UMKM sebagai motor penggerak perekonomian daerah. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
Tags
beritaTerkait
Bupati Taput Tinjau Pemulihan Infrastruktur dan Lahan Hunian Korban Bencana di Adian Koting
Presiden Prabowo Tiba di Prancis, Awali Kunjungan Resmi Kenegaraan
998 Personel Gabungan Amankan Perayaan Idul Adha di Kota Bandung
BGN Gandeng Polri Usut Dugaan Jual Beli Titik SPPG Program MBG
PKK Jateng Gencarkan Gemarikan untuk Tekan Angka Stunting
Bareskrim dan PLN: Blackout Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem, Tidak Ada Unsur Sabotase
komentar
beritaTerbaru