Rabu, 08 April 2026

Lestarikan Bumi dan Tingkatkan Pangan Desa melalui Program Desa Energi Berdikari Pertamina

Senin, 05 Mei 2025 12:34 WIB
Lestarikan Bumi dan Tingkatkan Pangan Desa melalui Program Desa Energi Berdikari Pertamina
Inovasi keberlanjutan Desa Energi Berdikari Pertamina di Desa Mernek, Kabupaten Cilacap, berhasil mendorong ketahanan pangan, sekaligus menaikkan ekonomi masyarakat dan mengurangi emisi karbon. (Dok/Pertamina)
Cilacap (buseronline.com) - Cuaca ekstrem dan bencana banjir terus menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan nasional. Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2023 tercatat 331 kejadian banjir yang menyebabkan lebih dari 50.000 hektare sawah di 20 provinsi mengalami gagal panen.

Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, turut merasakan dampaknya. Sebagai salah satu sentra produksi padi di wilayah tersebut, potensi gagal panen akibat cuaca tak menentu menjadi ancaman serius. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah desa bersama kelompok tani berkolaborasi dengan Pertamina melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB).

Kepala Desa Mernek, Bustanul Arifin, menjelaskan bahwa program tersebut mendorong penggunaan teknologi tepat guna dan energi baru terbarukan (EBT) dalam aktivitas pertanian. Salah satu teknologi yang diterapkan adalah alat pengering padi Rotary Dryer (Pinky Rudal), yang menggunakan bahan bakar gas dan listrik dari panel surya.

“Dengan adanya alat ini, petani tidak lagi bergantung pada matahari untuk mengeringkan gabah. Hasil panen jadi lebih berkualitas dan petani tidak merugi saat musim penghujan,” ujar Bustanul.

Saat ini, lebih dari 2.154 petani terlibat aktif dalam pengoperasian alat tersebut melalui Bumdes dan kelompok tani. Sistem iuran diterapkan untuk mendukung keberlanjutan operasional, termasuk biaya bahan bakar Bright Gas dan perawatan alat.

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, mengatakan bahwa Desa Mernek merupakan salah satu dari 172 desa di Indonesia yang tergabung dalam Program DEB. Dari jumlah tersebut, 31 desa fokus pada ketahanan pangan. Program ini juga mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.

“Desa Mernek menjadi contoh sukses penerapan energi terbarukan untuk mendukung produktivitas pertanian dan ekonomi desa. Program DEB juga mendorong pelestarian lingkungan dan pengurangan emisi karbon,” ungkap Fadjar.

Hasilnya, Desa Mernek kini mampu menyuplai hingga 120 ton hasil pertanian kepada distributor. Harga gabah pun meningkat Rp200.000 hingga Rp300.000 per ton berkat peningkatan kualitas pasca panen.

Program ini juga memberdayakan ibu-ibu melalui budidaya sayuran hidroponik berbasis energi surya. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur organik yang dijual sebagai tambahan penghasilan.

Tak hanya fokus pada pertanian, kawasan Mernek kini dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Edukasi Pertanian (Kawista) dengan konsep one-stop farming. Pengunjung dapat belajar pertanian organik, hidroponik, beternak kambing, hingga mengenal teknologi ramah lingkungan.

“Dalam lima tahun terakhir, kolaborasi kami dengan berbagai pihak, termasuk Pertamina, telah membawa perubahan besar. Prinsip kami adalah bersinergi tanpa batas,” tutur Bustanul.

Program DEB yang dijalankan Pertamina turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya TPB 2 (Tanpa Kelaparan), TPB 7 (Energi Bersih), dan TPB 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Pertamina juga berkomitmen mencapai target Net Zero Emission pada 2060 melalui penguatan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) dalam seluruh lini bisnisnya. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Pemkab Rembang Perkuat Budaya Donor Darah, Stok Diharapkan Lebih Stabil
Manajemen Mudik Lebaran 2026 Tuai Apresiasi
Presiden Prabowo Buka Istana untuk Anak-anak Sekolah
Bupati Taput Temui Kepala BBPJN Sumut
Pemko Medan Dorong Budaya Melayu Lebih Dekat dengan Masyarakat Lintas Suku
Pemkab Pati Tegaskan Komitmen Perkuat Pendidikan PAUD
komentar
beritaTerbaru