Pada kesempatan yang sama,
BPS Jawa Barat juga melaporkan perkembangan perdagangan luar negeri. Selama periode Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan
Jawa Barat mencatat surplus sebesar USD13,79 miliar.
Surplus tersebut diperoleh dari nilai ekspor yang mencapai USD19,60 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar USD5,81 miliar. Dibandingkan periode yang sama tahun 2025, nilai ekspor
Jawa Barat tumbuh 5,11 persen.
Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Barat dengan nilai USD3,26 miliar, disusul Filipina sebesar USD1,74 miliar dan Jepang sebesar USD1,40 miliar. Ketiga negara tersebut berkontribusi sebesar 32,95 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Barat.
Sementara itu, Tiongkok masih menjadi negara asal impor nonmigas terbesar ke
Jawa Barat dengan nilai mencapai USD2,30 miliar atau 41,85 persen dari total impor. Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan sebesar USD654,64 juta dan Jepang sebesar USD651,17 juta.
Data tersebut menunjukkan bahwa stabilnya pasokan pangan mampu menekan laju inflasi bulanan di Jawa Barat, sementara kinerja perdagangan internasional tetap mencatatkan hasil positif melalui surplus neraca perdagangan yang cukup besar. (R)
beritaTerkait
komentar