Selasa, 26 Mei 2026

Kemenhub Perkuat Layanan Transportasi Inklusif bagi Kelompok Rentan dan Wilayah 3T

Senin, 25 Mei 2026 22:17 WIB
Kemenhub Perkuat Layanan Transportasi Inklusif bagi Kelompok Rentan dan Wilayah 3T
Kemenhub RI terus memperkuat layanan transportasi inklusif bagi kelompok rentan hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar melalui peningkatan aksesibilitas, kualitas pelayanan, serta kapasitas sumber daya manusia.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) terus memperkuat layanan transportasi inklusif bagi kelompok rentan hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui peningkatan aksesibilitas, kualitas pelayanan, serta kapasitas sumber daya manusia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Arif Toha menegaskan pembangunan transportasi tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan konektivitas, tetapi juga harus memastikan seluruh masyarakat memperoleh akses layanan yang setara.

"Kementerian Perhubungan terus berupaya memperkuat komitmen dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang inklusif, ramah, dan responsif bagi kelompok rentan," ujar Arif Toha kepada media di Jakarta.

Menurutnya, kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, perempuan, anak-anak, hingga masyarakat di wilayah 3T masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses layanan transportasi, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun sensitivitas pelayanan.

Arif menyebut tahun 2026 menjadi momentum penting bagi penyelenggara transportasi untuk melakukan transformasi layanan agar semakin inklusif dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Dalam lima tahun terakhir, lanjutnya, sektor transportasi nasional telah mencatat berbagai kemajuan signifikan, baik dari sisi pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas, maupun kualitas pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian, manfaat pembangunan transportasi yang berkeadilan dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh kelompok rentan dan masyarakat di daerah 3T.

"Kelompok rentan seringkali menghadapi hambatan ganda yaitu keterbatasan akses fisik dan kurangnya kepekaan layanan. Oleh karena itu, tema workshop hari ini 'Praktik Baik Pelayanan Transportasi Ramah, Responsif, dan Sensitif' bukan sekadar slogan. Ini adalah sebuah kebutuhan mendesak, bahkan sebuah keharusan moral dan hukum dalam mewujudkan hak asasi manusia dan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam menciptakan layanan transportasi yang inklusif.

"Transportasi yang responsif tidak lahir dari infrastruktur saja, tetapi juga dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Petugas di terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan harus dibekali pelatihan mengenai pelayanan terhadap kelompok berkebutuhan khusus," katanya.

Di akhir keterangannya, Arif menegaskan terdapat tiga fokus utama yang menjadi perhatian dalam mewujudkan transportasi inklusif, yakni akselerasi kebijakan yang ramah kelompok rentan, penguatan kapasitas SDM sektor transportasi, serta penguatan kolaborasi lintas sektor. (DKI1)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
Alumni Pejuang Digital Dilepas Wapres dan Mendikdasmen, Beasiswa Negara Kembali ke Rakyat
Revitalisasi 19 Sekolah di Karangasem Selesai, Kemendikdasmen Tegaskan Keberlanjutan Program
komentar
beritaTerbaru