Singkawang (buseronline.com) - Upaya pelestarian bahasa daerah kembali diperkuat melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (
Badan Bahasa) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Pemerintah Kota Singkawang menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD)
Melayu Sambas tahun 2026.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan bahasa Melayu Sambas sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Kepala
Badan Bahasa,
Hafidz Muksin menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditunda. Ia mengungkapkan, setiap dua minggu satu bahasa daerah di dunia mengalami kepunahan.
Dengan jumlah 728 bahasa daerah, Indonesia menghadapi tantangan besar sekaligus tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut.
"Bahasa ibu adalah identitas dan jati diri. Jika bahasa hilang, maka nilai-nilai, pesan karakter, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya akan ikut punah," ujar Hafidz.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menyambut baik penunjukan daerahnya sebagai pusat revitalisasi bahasa Melayu Sambas tahun 2026.
Ia menyoroti pergeseran penggunaan bahasa di kalangan generasi muda yang kini lebih akrab dengan bahasa gaul dibandingkan bahasa ibu.
"Kalau kita diam, 20 tahun lagi bahasa ini hanya akan tinggal di skripsi. Revitalisasi ini bukan proyek mercusuar, tetapi kerja sunyi untuk generasi mendatang," katanya.
Pemerintah Kota Singkawang juga berencana mendorong penggunaan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan
Melayu Sambas, di ruang publik, termasuk pada penamaan jalan dan kantor.
beritaTerkait
komentar