Senin, 06 April 2026

Kemendikdasmen Dorong Partisipasi Guru dan Orang Tua untuk Tingkatkan Implementasi TKA

GY Simanjuntak MSi - Senin, 09 Maret 2026 09:18 WIB
Kemendikdasmen Dorong Partisipasi Guru dan Orang Tua untuk Tingkatkan Implementasi TKA
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menyampaikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026).
Depok (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya dalam memperkuat implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui pendekatan yang humanis, berintegritas, serta berorientasi pada kesejahteraan psikologis peserta didik.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui sinergi antara sekolah dan keluarga sebagai faktor penting dalam membangun kesiapan mental siswa menghadapi asesmen. Dalam hal ini, guru tidak hanya berperan menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga sebagai penguat karakter serta motivator bagi siswa. Sementara itu, orang tua menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan nilai kepercayaan diri, ketekunan, dan kejujuran.

Melalui kolaborasi tersebut, pelaksanaan TKA diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses pembelajaran yang sehat serta kesejahteraan psikologis peserta didik.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi TKA bertema “Sekolah sebagai Ruang Aman: Strategi Mengelola Kesiapan Mental Siswa Menghadapi TKA” yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Kegiatan tersebut berlangsung di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Rabu.

Dalam sambutannya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA dirancang sebagai bagian dari sistem Asesmen Nasional (AN) yang bertujuan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.

“Tes Kemampuan Akademik dirancang sebagai bagian dari sistem asesmen yang mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Namun perlu kita tegaskan bahwa asesmen bukanlah tujuan akhir. Asesmen adalah sarana untuk memahami proses belajar siswa, menetapkan kebutuhan mereka, dan memperbaiki layanan pendidikan agar semakin relevan dan bermakna,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pelaksanaan TKA harus ditempatkan dalam kerangka yang sehat dan humanis. Peserta didik, menurutnya, tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek pengukuran, melainkan sebagai individu yang sedang berkembang dan membangun potensi diri.

“Kita tidak boleh membiarkan asesmen menjadi sumber tekanan yang berlebihan. Sebaliknya, asesmen harus menjadi pengalaman belajar yang memperkuat mental, karakter, dan daya juang mereka,” tegasnya.

Menurut Masmidah, sekolah harus menjadi ruang aman yang memberikan rasa nyaman, penghargaan, serta dukungan emosional bagi siswa agar memiliki kesiapan mental dalam menghadapi berbagai bentuk asesmen.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa TKA tidak sekadar menjadi ujian tambahan, melainkan instrumen strategis untuk memotret kemampuan akademik siswa secara objektif, khususnya dalam aspek literasi, numerasi, dan penalaran.

“Ketika kita berbicara tentang Tes Kemampuan Akademik, kita sebenarnya sedang berbicara tentang budaya belajar yang sehat. TKA membantu kita melihat secara lebih jujur bagaimana proses belajar terjadi di ruang kelas dan apa yang perlu kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Toni juga menegaskan bahwa pelaksanaan TKA mengusung semangat “TKA Jujur dan Gembira” sebagai nilai fundamental dalam pendidikan.

“Kejujuran adalah fondasi dari setiap sistem asesmen yang bermartabat. Jika hasil asesmen dimanipulasi atau tekanan membuat kejujuran dikorbankan, maka kita kehilangan makna pendidikan itu sendiri. Di sisi lain, pendidikan tidak boleh menjadi sumber ketakutan. Anak-anak harus datang ke sekolah dengan rasa siap dan percaya diri,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, TKA diharapkan mampu menumbuhkan budaya integritas sejak dini sekaligus memperkuat kepercayaan diri peserta didik dalam menghadapi berbagai bentuk asesmen pendidikan.

Toni menambahkan bahwa tingkat partisipasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan TKA pada jenjang SD dan SMP saat ini telah mencapai sekitar 97 persen. Capaian tersebut menunjukkan tingginya komitmen sekolah dalam membangun budaya mutu serta akuntabilitas pembelajaran.

Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Marlina Hafidz Muksin, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari program kerja bidang pendidikan DWP yang bertujuan memperkuat literasi kebijakan asesmen di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari 20 sekolah di sekitar lokasi Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen yang terdiri atas kepala sekolah, guru, guru bimbingan dan konseling, komite sekolah, serta perwakilan dinas pendidikan setempat.

Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Kemendikdasmen berharap implementasi TKA dapat berjalan lebih optimal dengan dukungan berbagai pihak, sehingga mampu menciptakan proses asesmen yang sehat, transparan, serta mendukung perkembangan akademik dan psikologis peserta didik. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar