Kamis, 21 Mei 2026

Mendikdasmen Tekankan ASN Bekerja Profesional sebagai Ibadah dan Pondasi Integritas

Selasa, 03 Maret 2026 11:12 WIB
Mendikdasmen Tekankan ASN Bekerja Profesional sebagai Ibadah dan Pondasi Integritas
Ustaz Abdul Somad menyampaikan khotbah di kegiatan salat Jumat dan bedah buku “35 Kisah Saat Maut Menjemput” di Masjid Baitut Tholibin, Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (27/2/2026). (Dok/Kemendikdasmen)
Jakarta (buseronline.com) - Masjid Baitut Tholibin (MBT) di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, dipadati lebih dari seribu jemaah pada Jumat.

Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu ti, mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) agar bekerja dengan baik sebagai bagian dari ibadah serta upaya memupuk integritas.

Hadir sebagai khatib Salat Jumat, Ustaz Abdul Somad menyampaikan pesan tentang urgensi pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa dan martabat umat manusia.

Seusai pelaksanaan salat, Kemendikdasmen bersama Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) juga menggelar bedah buku berjudul 35 Kisah Saat Maut Menjemput karya Ustaz Abdul Somad.

Dalam keterangannya kepada awak media, Abdul Mu’ti mengapresiasi kehadiran Ustaz Abdul Somad serta antusiasme para jemaah yang mengikuti kegiatan tersebut.

Ia menilai, kegiatan bedah buku menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi, khususnya literasi sosial keagamaan, dengan masjid sebagai pusat pembelajaran.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan secara berkala sebagai bagian dari penguatan literasi dan pembinaan karakter di lingkungan kementerian,” ujar Mu’ti.

Menurutnya, kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian bertujuan menciptakan suasana kerja yang religius dan berintegritas. Ia berharap nilai-nilai religius tersebut berimplikasi langsung terhadap kesalehan dan etos kerja seluruh insan pendidikan.

Mu’ti pun berpesan agar para ASN bekerja dengan penuh tanggung jawab dan menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah. “Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, jauhi segala hal yang bertentangan dengan hukum, terutama menjauhkan diri dari perilaku dan jembatan korupsi serta tindakan lainnya yang merugikan,” tegasnya.

Dalam khutbahnya, Ustaz Abdul Somad mengisahkan Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Ia menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan kebijakan berbeda terhadap tawanan perang, yakni membebaskan mereka dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.

“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Dengan pendidikan, seseorang bisa memperoleh harta. Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan generasi berikutnya,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ilmu agama semata, tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan tentang alam semesta. Ramadan, lanjutnya, merupakan pendidikan terpanjang bagi umat Islam karena melatih pengendalian diri, termasuk menahan lapar dan mengelola emosi.

“Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, itulah sifat orang yang terdidik,” katanya.

Terkait peran pendidik, UAS menjelaskan bahwa dalam Islam, guru memiliki kedudukan mulia sebagai mu’allim (pengajar ilmu), muaddib (pengajar adab), dan murabbi (pembimbing). Guru bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.

Dalam paparannya, ia juga menyinggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peran para guru. Tokoh-tokoh seperti Jenderal Sudirman dan AH Nasution disebutnya sebagai sosok yang berlatar belakang pendidik sebelum mengabdikan diri di bidang militer.

Ia turut mengapresiasi peran organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang didirikan para ulama dan guru sebagai bagian dari perjuangan pendidikan dan kemerdekaan bangsa.

Sebagai penutup, Ustaz Abdul Somad mengingatkan agar perjuangan para pendidik terdahulu tidak dirusak oleh kepentingan duniawi. “Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Densus 88 Polri Gelar Rakernis 2026, Fokus Antisipasi Radikalisme Digital pada Anak dan Remaja
Sekolah Rakyat di Kabupaten Bekasi Mulai Beroperasi Juli 2026
150 Siswa Jabar Jalani Pendidikan Karakter Pancawaluya di Mako TNI Cilandak
Pemprov Jabar Pastikan Siswa Kurang Mampu Tetap Bisa Sekolah pada SPMB 2026
Polda Sumsel dan Divhumas Polri Perkuat Mitigasi El Nino Hadapi Ancaman Karhutla
41 Apoteker Baru Perkuat Layanan Kesehatan di Garut
komentar
beritaTerbaru