Senin, 06 April 2026

Pemerintah Perkuat Dukungan untuk Wilayah 3T, Pastikan Lingkungan Belajar Aman di Papua dan NTB

GY Simanjuntak MSi - Rabu, 25 Februari 2026 09:12 WIB
Pemerintah Perkuat Dukungan untuk Wilayah 3T, Pastikan Lingkungan Belajar Aman di Papua dan NTB
Tampak depan TK Negeri Pembina Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, yang menjadi salah satu penerima Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. (Dok/Kemendikdasmen)
Jakarta (buseronline.com) - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menunjukkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran di berbagai daerah, termasuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Program ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan sekolah, tetapi juga memperkuat lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan inklusif sebagai bagian dari visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Sejumlah kepala satuan pendidikan di daerah 3T menyampaikan testimoni atas perubahan signifikan yang dirasakan setelah revitalisasi. Dampak tersebut terlihat dari meningkatnya semangat belajar siswa, membaiknya kualitas proses pembelajaran, tumbuhnya rasa percaya diri sekolah dalam memberikan layanan pendidikan bermutu, hingga meningkatnya kepercayaan masyarakat.

Kepala TK Pembina Negeri Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, Albertina Insyur, mengungkapkan bahwa pada 2025 sekolahnya memperoleh empat menu bantuan revitalisasi. Bantuan tersebut meliputi rehabilitasi tiga ruang kelas baru (RKB), pembangunan toilet, pembangunan ruang kelas, dan pembangunan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

“Kami sangat bersyukur dengan revitalisasi ini. Sebagai sekolah yang berada di tapal batas Indonesia–Papua Nugini, bertahun-tahun sekolah kami belum tersentuh pembangunan. Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kemendikdasmen yang telah memberikan perhatian kepada kami. Semua murid sangat bahagia karena kini memiliki fasilitas baru dan lingkungan belajar yang jauh lebih nyaman,” ujar Albertina.

Ia menjelaskan, skema pembangunan secara swakelola turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Warga dilibatkan langsung dalam proses pembangunan sehingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah. Selain itu, dilansir dari laman Kemendikdasmen, aktivitas pembangunan turut menggerakkan perekonomian lokal, mulai dari toko material hingga kios kecil di sekitar sekolah.

Albertina berharap program revitalisasi terus dilanjutkan agar siswa di wilayah perbatasan memiliki kesempatan belajar yang setara dengan daerah lain.

Dampak serupa dirasakan SMP Islam Darul Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kepala sekolah Ihsan Sopiandi menyebutkan, pada 2025 sekolahnya menerima enam menu pembangunan, yakni empat ruang kelas baru, Laboratorium IPA, ruang administrasi, ruang UKS, ruang perpustakaan, dan toilet.

Seluruh pembangunan tersebut rampung pada akhir 2025 dengan total anggaran lebih dari Rp2,9 M.

“Program revitalisasi yang kami dapatkan membawa perubahan yang sangat nyata bagi sekolah kami. Sekarang seluruh murid dapat belajar dengan nyaman di ruang kelas hasil revitalisasi,” ungkap Ihsan.

Ia menambahkan, fasilitas baru tersebut meningkatkan citra sekolah di mata masyarakat. Jika sebelumnya keterbatasan sarana membuat sekolah kurang diminati, kini kepercayaan orang tua meningkat dan jumlah pendaftar bertambah. Selain itu, keberadaan ruang administrasi membuat manajemen sekolah lebih tertata dan profesional.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 1 Loloan, Sahrir, menyampaikan bahwa revitalisasi di sekolahnya meliputi pembangunan ruang administrasi, ruang kelas baru, toilet, ruang UKS, serta rehabilitasi ruang perpustakaan.

“Dampak revitalisasi di sekolah kami sangat signifikan, terutama dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman. Kini peserta didik tidak lagi belajar di lantai perpustakaan karena keterbatasan ruang kelas,” jelas Sahrir.

Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pembangunan memperkuat rasa kebersamaan dan turut mendorong perputaran ekonomi lokal karena material bangunan dibeli dari lingkungan sekitar.

Sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu ti, menegaskan bahwa revitalisasi tidak sekadar memperbaiki gedung rusak, tetapi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung transformasi karakter siswa.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, tahun 2026 kami menargetkan penambahan 60 ribu satuan pendidikan penerima revitalisasi, sehingga transformasi dan mutu pendidikan dapat dirasakan di seluruh penjuru negeri,” ujar Abdul Mu’ti.

Sebagai informasi, sepanjang 2025 Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah telah merevitalisasi 14.072 satuan pendidikan, terdiri atas 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA. Khusus wilayah 3T, revitalisasi menjangkau 76 PAUD, 419 SD, 325 SMP, dan 129 SMA.

Program ini menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap pemerataan pendidikan, terutama di wilayah 3T, guna memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bermartabat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
Tags
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar