Jember (buseronline.com) - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan membawa perubahan signifikan bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tidak hanya menghadirkan ruang kelas yang lebih kokoh, aman, dan nyaman, program ini juga memperbaiki fasilitas sanitasi, toilet, serta ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang sebelumnya sangat terbatas.
Perbaikan infrastruktur tersebut berdampak langsung pada kenyamanan belajar, keamanan warga sekolah, hingga meningkatnya kepercayaan dan kebanggaan masyarakat terhadap satuan pendidikan di daerah.
Di Kabupaten Jember, manfaat revitalisasi dirasakan luas oleh sekolah penerima bantuan. Sebelumnya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, sejumlah sekolah mengalami kekurangan ruang kelas, bangunan rusak berat, hingga fasilitas sanitasi yang tidak layak. Kini, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal dalam lingkungan yang sehat dan bersih.
Kepala SMP Negeri 1 Balung, Mohammad Rokhim, menjelaskan bahwa sebelum revitalisasi, lokasi sekolah yang berdekatan dengan area persawahan menyebabkan bagian utara sekolah kerap terendam banjir saat musim hujan.
Melalui program revitalisasi, sekolah merehabilitasi ruang kelas dengan meninggikan lantai sekitar 25 sentimeter dan tembok setinggi 70–100 sentimeter guna mencegah banjir. Hasilnya, ketika wilayah sekitar kembali dilanda banjir, sekolah tidak lagi terdampak.
“Anak-anak senang belajar di tempat baru yang lebih bersih, tinggi, dan sejuk. Suasana pembelajaran menjadi sangat kondusif,” ujar Rokhim.
Sebelumnya, dari 24 rombongan belajar, sekolah hanya memiliki 20 ruang kelas sehingga empat ruangan lain terpaksa dialihfungsikan sebagai tempat belajar. Kini, tambahan ruang kelas baru membuat seluruh kebutuhan rombongan belajar terpenuhi dan ruangan yang sempat dialihkan dapat digunakan kembali sesuai fungsinya.
Tambahan dua unit toilet baru serta rehabilitasi satu unit toilet lama turut memberikan dampak besar.
“Bantuan ini sangat bermanfaat sekali bagi kami. Sebelumnya anak-anak kekurangan toilet dan air. Sekarang semuanya tercukupi,” tambahnya.
Perubahan signifikan juga dirasakan SMP Negeri 1 Sumberjambe. Kepala sekolah Maryanto mengungkapkan bahwa sejak berdiri pada 1983, kondisi sarana dan prasarana sekolah sangat memprihatinkan.
Selama puluhan tahun, sekolah tersebut baru memperoleh rehabilitasi tiga ruang kelas pada 2013. Dengan 18 rombongan belajar, sekolah kekurangan ruang kelas sehingga laboratorium IPA, ruang multimedia, hingga ruang OSIS terpaksa difungsikan sebagai ruang belajar. Bahkan, beberapa siswa sempat dipindahkan ke musala akibat atap kelas yang bocor dan membahayakan.
Persoalan sanitasi menjadi kondisi paling memprihatinkan. Sejak berdiri, sekolah hanya memiliki dua toilet, dan satu di antaranya rusak berat sehingga tidak dapat digunakan. Keterbatasan tersebut membuat sebagian siswa memilih pergi ke sungai.
Melalui revitalisasi senilai Rp1,9 M, kondisi sekolah berubah drastis. Ruang kelas baru yang lebih kokoh dan nyaman membuat siswa lebih semangat belajar. Toilet yang dibangun pun kini memadai dan dilengkapi fasilitas ramah difabel.
“Baru sekarang kita memiliki toilet yang sangat memadai, kebiasaan ke sungai sudah berubah. Anak-anak sangat bahagia,” ungkap Maryanto.
Ia berharap peningkatan fasilitas ini turut mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Sukorejo 02, Ririn Husniyah, menyampaikan bahwa sebagai sekolah di wilayah pedesaan, banyak bangunan yang sudah keropos, terutama pada bagian rangka atap dan tembok yang mengelupas.
Melalui revitalisasi, sekolah memperoleh rehabilitasi tiga ruang kelas, ruang administrasi, ruang perpustakaan, serta pembangunan ruang UKS yang sebelumnya tidak dimiliki.
Sebelum adanya UKS, siswa yang sakit terpaksa beristirahat di perpustakaan atau ruang guru. Kini, sekolah memiliki ruang khusus untuk penanganan kesehatan siswa.
“Dengan adanya revitalisasi, luar biasa sekali. Sekolah kami jadi bagus, dicat ulang, bangunan diperbaiki, dan insyaallah semakin kuat,” ujarnya.
Ia juga menilai mekanisme swakelola berjalan baik karena pihak sekolah terlibat langsung dalam proses pembangunan sehingga kualitas bangunan lebih terjamin.
Peresmian hasil revitalisasi dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu ti, di SMP Negeri 1 Balung, Sabtu (21/2/2026).
Di Kabupaten Jember, revitalisasi menjangkau 142 satuan pendidikan dengan total alokasi anggaran Rp101 M, meliputi 6 PAUD, 74 SD, 44 SMP, dan 18 SMA.
“Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2025, khususnya yang ada di Kabupaten Jember ini, terlaksana dengan sukses dan selesai 100 persen,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan bahwa pembaruan infrastruktur harus diiringi dengan semangat belajar yang baru.
“Jangan lupa, kalau ruang kelasnya baru, semangatnya harus baru,” pesannya.
Program revitalisasi ini menjadi bukti bahwa investasi pada infrastruktur pendidikan tidak sekadar memperbaiki bangunan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, nyaman, dan harapan baru bagi sekolah-sekolah di daerah.
Dengan fasilitas yang layak dan memadai, proses pembelajaran diharapkan semakin optimal sehingga setiap anak Indonesia dapat belajar dalam lingkungan yang sehat dan bermartabat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar