Barito Selatan (buseronline.com) - Mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menuntut ketangguhan dan kreativitas guru dalam menghadapi keterbatasan sarana, akses internet, dan listrik yang belum stabil.
Meski kondisi ini menantang, para pendidik terus berinovasi untuk menghadirkan pembelajaran bermakna bagi peserta didik.
Upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan di wilayah 3T terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen). Melalui kebijakan dan fasilitasi pembelajaran, dilansir dari laman Kemendikdasmen, pemerintah memastikan guru memiliki ruang untuk berinovasi meski berada di daerah terpencil.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, menegaskan bahwa guru menjadi aktor utama dalam transformasi pendidikan nasional.
“Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemerataan akses, tetapi juga pada penguatan kapasitas profesional guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang responsif terhadap tantangan zaman,” ujarnya.
Salah satu contoh nyata datang dari Muhammad Fathul Arifin, yang telah lima tahun mengajar di wilayah 3T. Sejak 2020, Fathul mengabdi di SMA Swasta Bina Ilmu, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, sebelum pada Januari 2026 dipindah ke SMK Negeri 2 Buntok setelah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Saya sudah mengajar sejak 2020 di sekolah wilayah 3T dan baru dipindah ke sekolah wilayah bukan 3T pada Januari 2026 karena diangkat menjadi PPPK,” ungkap Fathul, Kamis (19/2/2026).
Fathul menjelaskan bahwa selama bertugas di 3T, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana, serta akses internet dan listrik yang belum stabil.
“Sarana dan prasarana yang kurang memadai serta keterbatasan internet dan listrik menjadi tantangan utama,” tuturnya.
Meski demikian, ia tetap berinovasi, mengajar melalui presentasi PowerPoint atau gim edukatif, menggunakan proyektor yang dinyalakan dengan mesin tenaga listrik. Pendekatan yang humanis dan menyenangkan diterapkan agar murid nyaman dan suasana kelas interaktif.
“Inovasi yang digunakan berupa gim edukasi dari laptop, ice breaking yang menyenangkan, ruang diskusi, dan tanya jawab santai agar kelas tetap hidup,” kata Fathul. Ia juga menekankan pentingnya membangun pola pikir dan motivasi siswa melalui contoh riil dan pengalaman pribadi.
Dukungan teknologi pembelajaran membawa dampak signifikan. Papan Interaktif Digital (PID), akses internet melalui Starlink, serta tenaga surya dari pemerintah mempermudah proses belajar mengajar, termasuk ulangan, praktik, dan kegiatan TKA. “Sejak ada PID, Starlink, dan tenaga surya, pembelajaran dan kegiatan sekolah berjalan lebih lancar,” ungkap Fathul.
Kini, di SMKN 2 Buntok, Fathul membawa pengalaman berharga dari wilayah 3T sebagai bekal meningkatkan mutu pendidikan. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap sekolah terpencil terus diperkuat agar desa tidak tertinggal dari kota besar.
“Harapan saya pemerintah dapat memperhatikan sekolah terpencil dengan bantuan sarana memadai agar anak-anak di desa tidak kalah dengan anak-anak di kota besar,” pungkasnya.
Melalui kebijakan dan dukungan nyata di lapangan, Kemendikdasmen terus mendorong terciptanya pendidikan inklusif, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa, termasuk di wilayah 3T. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar