Senin, 06 April 2026

Kolaborasi Keluarga dan Guru, Pemerintah Perkuat Pendidikan 3T untuk Pembangunan SDM

GY Simanjuntak MSi - Senin, 23 Februari 2026 11:28 WIB
Kolaborasi Keluarga dan Guru, Pemerintah Perkuat Pendidikan 3T untuk Pembangunan SDM
Guru mengajar murid di ruang kelas sederhana di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). (Dok/Kemendikdasmen)
Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam mendorong transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Penguatan tersebut tidak hanya difokuskan pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga pada pemerataan fasilitas pendidikan serta perluasan akses teknologi pembelajaran sebagai fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul dari seluruh pelosok Indonesia.

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa berbagai praktik baik yang dilakukan para guru di wilayah 3T membuktikan keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan berkualitas.

“Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang semakin luas,” ujar Nunuk.

Sebagai wujud keberpihakan nyata terhadap pendidik di wilayah khusus, pemerintah terus menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG). Sepanjang 2025, sebanyak 43.393 guru di daerah 3T tercatat menerima TKG dengan total anggaran mencapai Rp636.710.771.290. Setiap guru penerima memperoleh tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan guna mendukung kesejahteraan sekaligus menjaga keberlanjutan layanan pendidikan di daerah terpencil.

Komitmen tersebut sejalan dengan semangat pengabdian para guru di lapangan. Salah satunya ditunjukkan oleh Risky Jalil, guru Matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sejak 2024, ia mengabdikan diri di wilayah 3T dengan menghadapi berbagai dinamika dan tantangan dalam proses pembelajaran.

“Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah, terutama saat cuaca buruk seperti kerasnya ombak. Fasilitas belajar seperti buku dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkap Risky.

Di tengah keterbatasan tersebut, dilansir dari laman Kemendikdasmen, dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi penyemangat bagi guru untuk terus berinovasi. Risky menuturkan bahwa keterbatasan alat peraga dan teknologi tidak menghalanginya untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif.

“Khusus untuk pembelajaran matematika, saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga dan teknologi. Misalnya, untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” katanya.

Selain metode pembelajaran, Risky juga menekankan pentingnya membangun kedekatan emosional dengan murid untuk menumbuhkan motivasi belajar. Menurutnya, relasi yang kuat antara guru dan murid menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan di wilayah 3T.

“Cara saya membangun motivasi belajar murid adalah dengan menjalin hubungan yang dekat, memahami latar belakang mereka, dan memberikan apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka. Saya sering mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka. Pujian dan perhatian yang konsisten sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri murid,” tambahnya.

Risky berharap ke depan pemerataan kualitas pendidikan di wilayah 3T dapat terus diperkuat, baik dari sisi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi pembelajaran. “Semoga murid di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menilai program Tunjangan Khusus Guru memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan pembelajaran. “Program pemerintah melalui pemberian Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan dan motivasi kerja guru. Guru menjadi lebih termotivasi, disiplin, serta berkomitmen untuk tetap mengabdi di daerah terpencil, sehingga proses pembelajaran lebih stabil,” jelas Risky.

Selain dukungan kebijakan, kolaborasi keluarga dan masyarakat turut menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan di wilayah 3T. Kepercayaan dan keterlibatan orang tua, menurut Risky, menjadi kekuatan besar bagi guru dalam menjalankan tugas.

“Ketika orang tua percaya bahwa sekolah dapat membawa perubahan bagi masa depan anak-anak mereka, itu menjadi dukungan yang sangat berarti. Keterlibatan sederhana seperti memastikan anak hadir tepat waktu atau mendukung kegiatan sekolah sangat membantu keberhasilan pembelajaran. Bantuan buku, alat peraga, dan pelatihan dari berbagai pihak juga sangat bermanfaat,” tuturnya dalam keterangan yang disampaikan Kamis (19/2/2026).

Melalui sinergi kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta kolaborasi keluarga dan masyarakat, upaya pembangunan sumber daya manusia di wilayah 3T terus diperkuat secara berkelanjutan demi mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
Tags
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar