Medan (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mengawal mutu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Komitmen ini ditunjukkan melalui kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu ti, dalam peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampus 4 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, Senin.
Peluncuran SPPG diawali dengan peninjauan dapur operasional untuk memastikan kesiapan layanan dan standar gizi. Peresmian dilakukan oleh Sony Sanjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, sebagai bagian dari penguatan ekosistem layanan gizi yang aman, terstandar, dan berkelanjutan.
Kehadiran SPPG diharapkan memperkuat pemenuhan gizi bagi peserta didik serta kelompok rentan, termasuk ibu hamil dan balita.
Dalam sambutannya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Mendikdasmen Abdul Mu ti menegaskan bahwa MBG merupakan kebijakan strategis nasional dan investasi jangka panjang pembangunan manusia.
“Program Makan Bergizi Gratis yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto adalah investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. Kita sedang menyiapkan generasi 2045—mereka yang hari ini berada di PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan—agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemenuhan gizi pada fase penting pertumbuhan adalah kunci peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus pencegahan stunting.
“SPPG tidak hanya memastikan anak-anak kenyang, tetapi memastikan asupan gizinya seimbang, aman, dan berdampak bagi tumbuh kembang mereka,” tegas Mendikdasmen.
Sementara itu, Sony Sanjaya menekankan MBG adalah intervensi nyata negara melalui kerja bersama lintas sektor dan masyarakat.
“Program ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi langkah besar untuk mengubah cara pandang bangsa terhadap gizi. Anak-anak hari ini tidak hanya kenyang, tapi mendapat gizi seimbang seperti karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” ujarnya.
Menurutnya, dalam waktu singkat, MBG telah menjangkau puluhan juta peserta didik dengan dukungan jutaan relawan dan puluhan ribu SPPG di berbagai daerah. Kritik dan masukan publik menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan.
“Ini adalah kerja bersama. Setiap masukan adalah koreksi agar pelayanan gizi semakin baik, karena yang sedang kita siapkan adalah masa depan bangsa,” tambahnya.
Dukungan pelaksanaan MBG juga datang dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Wakil Gubernur Surya menyampaikan, kehadiran SPPG memberi dampak langsung bagi pembangunan manusia di daerah.
“Hari ini kita tidak sekadar meresmikan sebuah bangunan, tetapi sebuah gerakan. Gerakan untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, ibu hamil mendapat asupan yang baik, dan masa depan Sumatera Utara disiapkan sejak hari ini,” ujarnya.
Program MBG juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui pemanfaatan bahan pangan dari petani, nelayan, dan pelaku UMKM setempat.
Pengawalan mutu dijalankan secara disiplin melalui kerja harian di dapur SPPG UMSU. Tegardo, pengawas pemeliharaan dan pengantaran, menjelaskan:
“Setiap hari kami bekerja dengan Prosedur Operasional Standar yang jelas. Semua petugas menggunakan alat pelindung diri, bahan pangan ditimbang, dibersihkan, diolah sesuai jadwal, kemudian didistribusikan pagi hari agar anak-anak bisa sarapan sebelum belajar. Ini tanggung jawab untuk memastikan makanan yang diterima aman dan bergizi.”
Kerja nyata di lapangan ini menjadi cerminan bahwa MBG dijalankan secara menyeluruh dari kebijakan nasional hingga implementasi teknis di daerah.
Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk terus mengawal mutu MBG melalui penguatan standar layanan SPPG, pengawasan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor bersama Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Dengan pengawalan mutu yang konsisten, MBG diharapkan tidak hanya menjangkau lebih luas, tetapi juga memberi dampak nyata bagi tumbuh kembang peserta didik, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar