Selasa, 07 April 2026

Bupati Kepahiang Kunjungi Temanggung, Pelajari Budidaya Kopi Modern

Jumat, 13 Februari 2026 09:06 WIB
Bupati Kepahiang Kunjungi Temanggung, Pelajari Budidaya Kopi Modern
Bupati Kepahiang Zurdi Nata berdialog dengan petani saat mempelajari budidaya kopi modern di Kabupaten Temanggung sebagai upaya peningkatan produktivitas kopi, Rabu (11/2/2026). (Dok/Jatengprov)
Temanggung (buseronline.com) - Bupati Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Zurdi Nata, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk mempelajari budidaya kopi modern sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di daerahnya, Rabu.

Dalam kunjungan tersebut, dilansir dari laman Jatengprov, Zurdi Nata terjun langsung ke kebun kopi dan berdialog dengan para petani setempat. Ia mempelajari proses budidaya kopi Robusta dan Arabika, mulai dari penggunaan bibit unggul, teknik perawatan tanaman, hingga metode panen petik merah yang telah diterapkan secara konsisten di Temanggung.

“Tadi saya belajar banyak dari petani di sini. Ada perbedaan teknis dalam penanaman dan pengelolaan kopi di Temanggung dibandingkan di Kepahiang,” ungkap Zurdi.

Ia menjelaskan, Kabupaten Kepahiang memiliki potensi lahan kopi seluas 26 ribu hektare. Namun, produksi yang dihasilkan saat ini baru mencapai sekitar 19 ribu ton per tahun. Menurutnya, angka tersebut masih bisa ditingkatkan melalui penerapan teknik budidaya yang lebih modern dan terintegrasi.

“Saya punya lahan itu 26 ribu hektare, tapi produksinya masih 19 ribu ton per tahun. Untuk meningkatkan produksi kopi ini saya ingin edukasi kepada warga saya. Karena selama ini saya lihat rata-rata masih konvensional, dan nanti kita ke arah modern seperti yang dilakukan di Temanggung ini,” jelasnya.

Zurdi menegaskan bahwa sektor kopi menjadi salah satu program unggulan Kabupaten Kepahiang, mengingat dukungan sumber daya alam yang memadai serta tingginya minat masyarakat terhadap komoditas tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto, menjelaskan bahwa secara geografis kondisi Temanggung dan Kepahiang relatif serupa. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam perlakuan panen kopi.

“Perbedaan utama adalah metode petik. Di sini sudah menggunakan petik merah, sementara di Kepahiang belum semuanya. Dari sisi harga, kopi petik merah bisa lebih dari Rp70 ribu per kilogram, sedangkan petik hijau sekitar Rp60 ribu per kilogram,” jelas Joko.

Ia menambahkan, produktivitas kopi Robusta dan Arabika di Temanggung berkisar antara 2,5 hingga 3 ton kopi basah per hektare. Tingginya hasil panen tersebut didukung oleh penggunaan bibit unggul, pemupukan terpadu, pemangkasan rutin, pengendalian hama, panen petik merah, serta pengolahan pascapanen yang baik.

Menurutnya, penerapan teknik budidaya modern dan terintegrasi terbukti mampu meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas produksi kopi secara signifikan.

Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi antardaerah dalam pengembangan komoditas kopi nasional, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui penerapan teknologi dan manajemen pertanian yang lebih maju. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru