Jakarta (buseronline.com) - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong transformasi besar di dunia kerja dan industri. Kondisi ini menuntut pendidikan vokasional, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), untuk beradaptasi secara cepat agar mampu menyiapkan lulusan yang relevan dan kompetitif menghadapi kebutuhan industri masa depan.
Menjawab tantangan tersebut, Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “The Integration of Artificial Intelligence (AI) in TVET and Future Strategies” di Jakarta, Selasa.
Seminar ini menjadi forum berbagi praktik baik, kebijakan, serta strategi penerapan AI dalam pendidikan dan pelatihan vokasi atau Technical and Vocational Education and Training (TVET), guna menciptakan sistem pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas inklusi sosial. Menurutnya, integrasi AI menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kesiapan kerja lulusan.
“Mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Pada saat yang sama, kita harus memastikan tidak ada yang tertinggal, sehingga transformasi digital tetap inklusif dan mudah diakses,” ujar Tatang.
Ia menjelaskan, dilansir dari laman Kemendikdasmen, pemanfaatan AI dapat mendorong pembelajaran yang lebih personal, asesmen adaptif, serta pemetaan kompetensi secara real-time. Dengan pendekatan tersebut, kurikulum SMK dapat diselaraskan secara dinamis dengan kebutuhan industri global yang terus berubah.
“Kita harus memastikan bahwa lulusan kita tidak hanya siap kerja saat ini, tetapi juga siap menghadapi ekonomi masa depan. Seminar ini menjadi wadah untuk berbagi strategi masa depan dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistem TVET di berbagai negara,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan KRIVET, Kim Young Saing, menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperkuat kesiapan pendidikan vokasi dalam merespons disrupsi teknologi. Ia menilai AI telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga industri, sehingga satuan pendidikan perlu menyesuaikan diri secara serius.
“Pendidikan tidak hanya tentang gelar akademik, tetapi juga tentang keterampilan, karakter, dan peran sosial. Dalam konteks ini, sekolah perlu menyesuaikan kurikulum, termasuk mengadopsi AI, agar selaras dengan kebutuhan industri,” jelas Kim.
Menurutnya, kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan membuka peluang besar untuk mempercepat transformasi pendidikan vokasi di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.
“Mari kita berdiskusi bersama untuk memperkuat kerja sama ini demi menciptakan pendidikan yang relevan dan berdampak bagi masa depan,” pungkasnya.
Melalui sinergi lintas negara tersebut, Kemendikdasmen berharap SMK di Indonesia semakin responsif terhadap perkembangan teknologi digital, sekaligus mampu mencetak sumber daya manusia yang terampil, adaptif, inovatif, dan siap bersaing di pasar kerja global. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar