Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026. Program prioritas tersebut memberikan peluang bagi santri asal Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, termasuk ke Universitas Al Azhar Mesir hingga sejumlah kampus di Jepang.
Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Prof Dr KH Hasyim Muhammad, mengatakan beasiswa ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah daerah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi kalangan pesantren.
“Program ini bentuk kehadiran pemerintah provinsi bagi pesantren. Santri tidak hanya didorong kuliah di dalam negeri, tetapi juga diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri,” ujar Hasyim saat rilis Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu.
Ia menjelaskan, dilansir dari laman Jatengprov, program tersebut mencakup sejumlah skema pendidikan. Untuk dalam negeri, tersedia beasiswa vokasi dan Strata 1 (S1) di bidang kedokteran, pertanian, sains, teknologi, teknik, matematika (STEM), serta keislaman di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Tengah yang telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Jateng.
Sementara untuk luar negeri, beasiswa vokasi dan S1 dibuka di berbagai negara seperti Turki, India, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Selain itu, tersedia beasiswa khusus bidang keislaman di Universitas Al Azhar Mesir, Universitas Al Ahqof, dan Universitas Imam Syafi’i Yaman.
Tak hanya untuk santri, program ini juga menyasar pengasuh pesantren melalui beasiswa Strata 2 (S2) dan Strata 3 (S3) dalam negeri pada bidang keislaman, humaniora, kedokteran, sains, dan teknologi.
Hasyim menegaskan, seluruh penerima beasiswa memiliki kewajiban pengabdian setelah menyelesaikan studi.
“Ini menjadi bagian dari latihan pemberdayaan masyarakat. Ilmu yang diperoleh harus kembali ke pesantren dan masyarakat. Minimal satu tahun mengabdi di pesantren asal,” tegasnya.
Dari sisi pembiayaan, Pemprov Jateng menanggung berbagai komponen biaya, mulai dari uang kuliah tunggal (UKT), biaya hidup, visa, tiket pesawat, hingga asuransi. Untuk program dalam negeri, bantuan UKT diberikan hingga delapan semester, dengan nominal tertinggi untuk bidang kedokteran mencapai Rp15 juta per semester.
Seleksi penerima dilakukan secara berlapis, meliputi verifikasi administrasi, seleksi akademik, serta wawancara. Kemampuan membaca kitab kuning menjadi syarat utama, dengan nilai tambah bagi santri penghafal Al-Qur’an. Aspek wawasan kebangsaan dan kepesantrenan juga menjadi bagian penting dalam penilaian.
Pendaftaran beasiswa dijadwalkan mulai 18 Februari 2026 dan seluruh proses dilakukan secara daring. Hasil seleksi akan diumumkan melalui laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Koordinator Bidang Beasiswa dan Pelatihan LFSP Jateng, Prof Akhmad Syakir Kurnia, menambahkan bahwa program ini mengedepankan akuntabilitas dan tanggung jawab penerima. Setiap peserta wajib melaporkan perkembangan studi setiap semester serta laporan akhir setelah lulus.
Menurutnya, santri memiliki keunggulan tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga karakter.
“Bayangkan lahir dokter, insinyur, atau ilmuwan lulusan luar negeri yang juga memiliki watak santri yang santun. Ini yang ingin dibangun Jawa Tengah,” ujarnya.
Melalui program ini, Pemprov Jateng berharap lahir generasi pesantren yang kompeten, berdaya saing global, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan pengabdian kepada masyarakat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar