Surakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq berpesan kepada para lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) agar memandang kecerdasan artifisial (KA) sebagai mitra strategis dalam pembelajaran, bukan ancaman bagi profesi guru.
Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru tetap memegang peran utama dalam membentuk karakter dan nilai kemanusiaan peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Fajar saat menghadiri Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu.
“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi di dunia telah memanfaatkan kecerdasan artifisial, sementara otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global. Kondisi ini turut memengaruhi dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru membekali siswa dengan kompetensi masa depan.
Meski demikian, Fajar menegaskan bahwa KA tidak akan menggantikan peran guru. Teknologi justru berfungsi sebagai asisten yang membantu proses pembelajaran, seperti personalisasi materi, analitik pembelajaran, hingga efisiensi kerja guru.
Ia mencontohkan penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai inovasi yang mampu menciptakan pengalaman belajar lebih bermakna dan menyenangkan.
“KA bisa membantu banyak hal secara teknis, tetapi keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak tergantikan,” katanya.
Menurutnya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, pemanfaatan teknologi membuka peluang besar bagi pembelajaran yang lebih inklusif dan kontekstual. Namun, peluang tersebut hanya akan optimal jika guru memiliki literasi digital yang kritis serta kapasitas pedagogik yang kuat.
Di sisi lain, Fajar juga mengingatkan adanya tantangan etis dalam penggunaan KA, seperti risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi, menurunnya daya kritis siswa, hingga penggunaan tanpa tanggung jawab. Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi kunci agar pemanfaatan KA tetap bijak dan bermartabat.
Ia menekankan perubahan pendekatan pembelajaran di kelas. Guru didorong melatih siswa untuk berpikir kritis dan berani bertanya, bukan sekadar menjawab soal.
“Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka mengembangkan pertanyaan,” jelasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerapkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam pelajaran lain maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Hingga Tahun Ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan guna memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir komputasional.
Fajar juga mengingatkan para guru agar tetap profesional dan siap ditempatkan di mana pun, termasuk di daerah terpencil, demi pemerataan pendidikan bermutu.
“Harus berbesar hati jika ditempatkan di mana pun bertugas. Anak-anak kita di Flores, di Talaud, berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Harun Joko Prayitno, menyatakan komitmen kampus sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap teknologi, beretika dalam memanfaatkan KA, serta tetap menjunjung nilai kemanusiaan.
“Di era kecerdasan artifisial, guru harus menjadi jangkar nilai, penuntun etika, dan penjaga arah pendidikan,” ujarnya.
Perwakilan wisudawan, Ahmad Lutfi, menilai PPG bukan hanya pendidikan profesi, melainkan proses pendewasaan diri sebagai pendidik.
“Guru bukan sekadar profesi, tapi pertemuan antara harapan dan masa depan. Kita belajar sabar, rendah hati, dan bertanggung jawab,” katanya.
Ia berharap kebijakan pendidikan ke depan semakin berpihak pada guru agar mampu melahirkan pendidik pembelajar demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Melalui yudisium ini, para lulusan PPG diharapkan siap menjadi guru profesional yang melek teknologi, berkarakter kuat, dan mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijak untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar