Senin, 06 April 2026

Pemulihan Trauma Siswa di Aceh Dibantu SAIH, MBG, dan Distribusi School Kit

GY Simanjuntak MSi - Selasa, 03 Februari 2026 09:18 WIB
Pemulihan Trauma Siswa di Aceh Dibantu SAIH, MBG, dan Distribusi School Kit
Siswa SD Negeri Karangjadi, Kabupaten Aceh Tengah, mengikuti kegiatan belajar di tenda darurat yang didirikan Kemendikdasmen pascagempa. (Dok/Kemendikdasmen)
Aceh (buseronline.com) - Pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, sekolah tidak hanya menghadapi kerusakan fisik bangunan, tetapi juga persoalan psikologis siswa berupa trauma, kecemasan, dan ketakutan untuk kembali belajar.

Di tengah kondisi tersebut, pendidikan menjadi ruang penting untuk memulihkan rasa aman dan semangat anak-anak. Meski dengan keterbatasan sarana, proses pembelajaran tetap berjalan melalui berbagai penyesuaian.

Mulai dari penggunaan tenda darurat, penguatan peran guru dan orang tua, hingga dukungan konkret pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) lewat program Sekolah Aman dan Inklusif (SAIH), Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembagian school kit bagi siswa terdampak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh pada 28–30 Januari 2026 meninjau langsung sejumlah sekolah terdampak bencana.

Dalam agenda tersebut, ia meresmikan revitalisasi 76 satuan pendidikan serta menggelar audiensi dengan para kepala sekolah untuk mendengar kebutuhan dan kendala pemulihan pembelajaran.

Salah satu sekolah yang dikunjungi adalah SDN Karangjadi, Aceh Tengah, yang terdampak gempa pada akhir Desember lalu. Meski sebagian ruang kelas mengalami keretakan, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan.

Kepala SDN Karangjadi, M Gazali, mengatakan pihaknya mengalihkan pembelajaran kelas 1 dan 2 ke tenda darurat yang disediakan Kemendikdasmen, sementara kelas lain tetap menggunakan ruang yang dinilai aman.

“Pasca gempa, beberapa bangunan mengalami retak sehingga kami khawatir kelas akan roboh. Namun pembelajaran tidak kami hentikan. Dua kelas belajar di tenda, selebihnya tetap di ruang yang tidak rusak. Yang terpenting, anak-anak tetap datang ke sekolah dan merasa didampingi,” ujar Gazali di sela audiensi dengan Mendikdasmen di Kabupaten Bener Meriah, Kamis (30/1/2026).

Menurutnya, keberlanjutan pembelajaran tidak lepas dari kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua. Para guru aktif memberi motivasi serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak-anak merasa aman secara emosional.

Ia juga menyebut program MBG memberi dampak positif terhadap semangat siswa. “Setiap istirahat pertama, para siswa mendapatkan MBG dan mereka makan dengan lahap sampai habis,” katanya.

Tantangan serupa dihadapi TK Negeri Iwan Tona yang berada di lereng Gunung Merapi. Selain kerusakan bangunan, trauma psikologis menjadi persoalan utama bagi anak usia dini.

Kepala sekolah, Nova Mulyani, menginisiasi program guru tamu dengan menghadirkan pengajar dari kecamatan lain secara bergantian untuk menghibur sekaligus mengajar siswa.

“Anak-anak ini masih kecil, sempat takut masuk kelas lagi. Kami peluk dan bujuk mereka, perlahan keberanian mereka kembali. MBG juga jadi pemicu anak-anak mau ke sekolah, bahkan minta porsinya ditambah. Ini bukan hanya soal makanan, tapi rasa aman,” tuturnya.

Di SMPM 11 Teritit, proses pemulihan dilakukan dengan pendekatan emosional. Sekolah tersebut sempat terisolasi akibat akses jalan terputus selama hampir tiga pekan.

Kepala sekolah, Habsah, menjelaskan pihaknya tidak langsung mengejar ketertinggalan materi pelajaran, melainkan memprioritaskan pemulihan mental siswa.

“Kami merangkul anak-anak dulu, memvalidasi kesedihan mereka, mengajak bernyanyi, dan melakukan Senam Anak Indonesia Hebat untuk mencairkan suasana agar mereka bisa kembali tertawa,” ujarnya.

Selain meninjau sekolah, Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga menyerahkan bantuan operasional serta membagikan school kit kepada para siswa. Ia memberikan motivasi kepada guru dan peserta didik agar tetap bersemangat menjalani proses pemulihan.

“Anak-anak harus tetap semangat. Ada ruang kelas yang sedang diperbaiki, ada gedung yang dibangun, ada juga yang belajar di tenda. Tapi yang penting kita semua harus semangat,” tegasnya.

Kemendikdasmen, lanjutnya, terus mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, termasuk perbaikan ruang kelas, penyediaan mebel, serta pemenuhan fasilitas pembelajaran yang aman dan layak.

Di tengah keterbatasan pascabencana, upaya tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tetap menyala. Bukan semata karena bangunan telah pulih, melainkan karena anak-anak tetap dijaga, guru hadir sepenuh hati, dan negara berdiri bersama sekolah-sekolahnya dalam proses pemulihan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Southampton Singkirkan Arsenal, Melaju ke Semifinal Piala FA
Inter Miami Ditahan Austin FC 2-2 di Pekan Ke-6 MLS 2026
Lille Bungkam Lens 3-0 di Derby du Nord, Asa Juara Tim Tamu Kian Menipis
Dua Perwira TNI Terima Penghargaan Pemerintah Kamboja atas Peran dalam Misi Perdamaian ASEAN
Polri Kirim Ratusan Personel ke Papua Tengah dan Maluku Utara untuk Perkuat Pengamanan
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
komentar
beritaTerbaru