Selasa, 07 April 2026

Mendikdasmen Tegaskan Penguasaan AI Wajib Diimbangi Kompetensi dan Keadaban Digital

Selasa, 27 Januari 2026 09:14 WIB
Mendikdasmen Tegaskan Penguasaan AI Wajib Diimbangi Kompetensi dan Keadaban Digital
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan paparan saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY

Yogyakarta (buseronline.com) - Pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan agar adaptif terhadap perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.


Penguasaan teknologi dinilai penting, namun harus dibarengi kompetensi serta keadaban digital agar pemanfaatannya tetap beretika dan bertanggung jawab.


Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua yang digelar di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu.


“Kecerdasan artifisial (AI) kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Namun, penting kita perlu memiliki digital competence, tetapi itu harus diiringi dengan digital civility atau keadaban digital. Tanpa etika, pemanfaatan AI justru bisa menjadi sumber persoalan sosial baru,” ujar Mu’ti di hadapan sekitar 800 alumni UNY yang mengikuti kegiatan secara luring dan daring.


Menurutnya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, perkembangan AI telah memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, riset, dunia kerja, hingga cara manusia memperoleh dan mengolah pengetahuan.


Sejumlah kajian global menunjukkan AI berpotensi menggantikan beberapa jenis pekerjaan, tetapi di sisi lain membuka peluang profesi baru.


“Yang terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Tetapi mereka yang menguasai AI justru akan menjadi semakin berdaya. Karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk memastikan generasi muda tidak tertinggal,” tegasnya.


Mu’ti menjelaskan, AI pada dasarnya bekerja dengan menghimpun dan merangkum data yang diunggah manusia. Karena itu, validitas dan kebenaran informasi menjadi faktor krusial. Jika data yang dimasukkan tidak akurat atau tidak etis, hasil keluaran AI pun berpotensi menyesatkan.


“AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak memiliki hati dan kesadaran moral. Maka tanggung jawab manusialah untuk memastikan bahwa apa yang diunggah, diproduksi, dan disebarkan melalui AI adalah sesuatu yang benar dan baik,” katanya.


Ia juga menyoroti maraknya manipulasi digital, seperti pemalsuan gambar, suara, hingga narasi, yang dapat merusak reputasi seseorang. Di era scroll society, ketika masyarakat cenderung membaca secara cepat dan dangkal, konten semacam ini dinilai mudah dipercaya dan disebarluaskan.


“Karena itu, etika, tata krama, dan literasi digital harus menjadi bagian penting dari pendidikan kita,” tambahnya.


Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen mulai mengintegrasikan pembelajaran AI dan koding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, dimulai dari kelas V SD. Kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap menyesuaikan kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan.


“Kami mulai dari mata pelajaran pilihan karena guru harus kita latih terlebih dahulu. Jika sudah siap, ke depan bisa diperluas. Yang penting, anak-anak kita tidak hanya diajari teknologinya, tetapi juga nilai dan etika dalam menggunakannya,” jelas Mu’ti.


Ia menegaskan, pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama, termasuk dalam pembelajaran berbasis AI. Nilai-nilai moral tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.


“AI harus kita posisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Pendidikan Indonesia harus tetap relevan dengan dunia yang terus berubah, namun tetap berpijak pada nilai, karakter, dan keadaban,” pungkasnya.


Sementara itu, Rektor UNY Sumaryanto menegaskan komitmen kampusnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi penguatan mutu pendidikan dan penelitian.


Dalam lima tahun terakhir, UNY secara konsisten mendorong dosen dan tenaga kependidikan melanjutkan studi, memperkuat riset, serta meningkatkan publikasi ilmiah.


“Kami bekerja di perguruan tinggi, maka kualitas sumber daya manusianya harus terus ditingkatkan. Itulah sebabnya kami mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk studi lanjut, memperkuat riset, dan publikasi,” ujarnya.


Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kemendikdasmen dalam membangun pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI. UNY pun siap mendukung kebijakan tersebut melalui penguatan riset dan pengembangan SDM.


“Dengan arahan Bapak Menteri dan jajaran Kemendikdasmen, kami bersyukur kualitas SDM UNY terus meningkat, baik jumlah doktor, profesor, maupun tenaga kependidikan yang sedang studi lanjut. Ini bagian dari ikhtiar kami agar UNY mampu berkontribusi lebih besar dalam peningkatan mutu pendidikan dan penelitian di era yang terus berubah,” tutup Sumaryanto. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru