Bireun (buseronline.com) - Pemulihan proses belajar-mengajar pascabencana banjir terus digiatkan di Kabupaten Bireuen, Aceh. SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng menerapkan pembelajaran paralel dengan penggabungan kelas agar kegiatan pendidikan tetap berjalan meskipun sarana prasarana sekolah terdampak banjir.
Sekolah ini memiliki 208 peserta didik, didukung 38 guru dan 5 tenaga kependidikan. Sejak minggu kedua pascabanjir, seluruh warga sekolah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah. Kepala SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Muhammad Rachmad Fadhli, mengatakan, “Kami semua warga sekolah, guru dan siswa, bergotong royong membersihkan apa yang bisa kami bersihkan, meskipun banyak guru dan siswa juga menjadi korban banjir dan longsor.”
Dari delapan ruang belajar yang tersedia, hanya satu kelas siap digunakan. Sekolah memanfaatkan perpustakaan, ruang kepala sekolah, laboratorium TIK, aula, dan ruang OSIS untuk mengakomodasi kegiatan belajar. Beberapa kelas juga digabung agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Meski belum sepenuhnya pulih, kegiatan belajar-mengajar kembali dimulai pada Senin, 19 Januari 2026. “Saat ini pembelajaran berlangsung tanpa meja dan kursi. Siswa duduk di lantai dengan alas terpal,” tambah Fadhli.
Selain pemulihan fisik, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng juga menggelar trauma healing bagi guru dan siswa sebagai bagian dari pemulihan psikososial.
Untuk mempercepat pemulihan, sekolah menerima dukungan dari pemerintah daerah, TNI, Polres, Cabang Dinas Pendidikan, mahasiswa, dan masyarakat setempat. “Bantuan uang langsung kami gunakan untuk membersihkan sekolah. Alat berat sempat masuk selama tiga hari,” jelas Fadhli. Sekolah juga menerima tenda belajar sementara dan mengajukan kelas darurat yang rencananya akan dipasang di lapangan futsal.
Kondisi fisik bangunan sekolah banyak mengalami kerusakan. “Dinding retak, cat terkelupas, jendela dan pintu rusak bahkan ada yang copot, lantai juga longsor karena air banjir sampai ke atap,” ungkap Fadhli.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen), Gogot Suharwoto, menyampaikan apresiasi atas ketangguhan warga sekolah dan gotong royong seluruh pihak dalam memulihkan layanan pendidikan pascabanjir.
“Dalam kondisi darurat pascabencana, prioritas utama adalah memastikan anak-anak tetap dapat belajar dengan aman dan bermakna, meskipun harus dilakukan secara paralel, menumpang, atau menggunakan ruang sementara,” ujarnya.
Kemendikdasmen akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), dan pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat pemulihan sarana pendidikan di wilayah terdampak.
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 5 Januari 2026, dari 2.639 sekolah terdampak bencana di Aceh, sebanyak 2.805 sekolah melakukan pembelajaran di sekolah asal dengan sarana terbatas, 2.532 sekolah belajar menggunakan tenda darurat, 82 sekolah menumpang, 26 sekolah menggunakan sistem double shift, 94 sekolah sudah siap belajar, dan 166 sekolah masih dalam proses pembersihan. Sekolah yang masih dalam proses pembersihan ditargetkan selesai akhir Januari 2026.
Beberapa daerah yang masih dalam proses pembersihan antara lain: Aceh Tamiang (40 sekolah), Aceh Timur (35), Bener Meriah (24), Bireun (32), Pidie Jaya (20), Gayo Lues (14), dan Nagan Raya (14). Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah paling parah terdampak.
Pemulihan di SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng menunjukkan bagaimana kolaborasi warga sekolah, pemerintah, dan masyarakat dapat menjaga keberlangsungan pendidikan meski menghadapi keterbatasan akibat bencana. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar