Senin, 06 April 2026

Perluasan Beasiswa dan Penguatan Pendidikan Tinggi Jadi Fokus Arahan Presiden Prabowo

GY Simanjuntak MSi - Jumat, 16 Januari 2026 05:57 WIB
Perluasan Beasiswa dan Penguatan Pendidikan Tinggi Jadi Fokus Arahan Presiden Prabowo
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan keterangannya pada Kamis (15/1/2026), di Istana Kepresidenan Jakarta.
Jakarta (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan arahan strategis untuk memperkuat pendidikan tinggi nasional dalam Taklimat Presiden RI dengan Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2026, yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis.

Kegiatan ini menyoroti perluasan akses beasiswa, penguatan sains dan teknologi, serta pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan nasional.

Menteri Sekretaris Negara RI, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa para rektor dan guru besar mengapresiasi forum dialog langsung dengan Presiden, bahkan mengusulkan agar forum serupa dapat dilaksanakan secara lebih rutin.

“Ada permohonan juga dari para rektor dan guru besar agar forum-forum seperti ini bisa lebih dirutinkan kembali,” ujar Prasetyo kepada media.

Dalam taklimat tersebut, Presiden Prabowo menerima laporan terkait jumlah mahasiswa di Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 9,9 juta orang, namun penerima beasiswa hanya 1,1 juta mahasiswa.

Menanggapi hal tersebut, Presiden memberikan arahan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi bersama Kementerian Sekretariat Negara untuk melakukan perhitungan dan perumusan ulang kebijakan agar jumlah penerima beasiswa dapat diperluas secara signifikan.

“Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami, terutama Mendiktisaintek, dan kami sebagai Mensesneg untuk mencoba menghitung ulang, mengformulakan ulang bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” jelas Prasetyo.

Selain itu, Presiden juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Alokasi beasiswa LPDP diarahkan agar difokuskan pada bidang ini sebagai langkah percepatan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Beliau berharap mencapai di atas 80 persen, karena kita memang konsentrasi untuk mengejar ketertinggalan kita terlebih dahulu dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” imbuh Prasetyo.

Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga menyoroti kekurangan tenaga kesehatan, khususnya dokter dan dokter spesialis. Pemerintah pusat menyiapkan dua langkah utama, yaitu memperbesar kapasitas penerimaan mahasiswa kedokteran dan dokter spesialis, serta kemungkinan membangun fakultas kedokteran baru.

“Yang kedua, memang mau tidak mau kita harus memberanikan diri untuk membuat fakultas baru untuk kedokteran umum,” ujar Prasetyo.

Presiden juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan dokter gigi, farmasi, dan teknologi kesehatan, seiring berkembangnya peralatan medis berbasis teknologi. Pemerintah masih dalam tahap identifikasi lokasi dan kebutuhan fakultas baru tersebut.

“Titiknya belum, sedang dalam proses kita identifikasi, sebaiknya ada di mana dan berapa kira-kira yang kita perlukan,” tutup Prasetyo.

Langkah ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk memperluas pemerataan akses pendidikan tinggi, meningkatkan kualitas SDM, dan menjawab tantangan kebutuhan tenaga profesional di bidang kesehatan di Indonesia. (P3)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Southampton Singkirkan Arsenal, Melaju ke Semifinal Piala FA
Inter Miami Ditahan Austin FC 2-2 di Pekan Ke-6 MLS 2026
Lille Bungkam Lens 3-0 di Derby du Nord, Asa Juara Tim Tamu Kian Menipis
Dua Perwira TNI Terima Penghargaan Pemerintah Kamboja atas Peran dalam Misi Perdamaian ASEAN
Polri Kirim Ratusan Personel ke Papua Tengah dan Maluku Utara untuk Perkuat Pengamanan
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
komentar
beritaTerbaru