Padang (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam merespons dan menangani dampak bencana alam di Sumatera Barat.
Penguatan peran kampus tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja ke Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Putra Indonesia Yayasan Perguruan Tinggi Komputer (UPI YPTK) Padang, Sabtu.
Kunjungan ini merupakan implementasi kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, yang mendorong perguruan tinggi hadir secara nyata membantu sivitas akademika dan masyarakat terdampak bencana.
Rangkaian kegiatan difokuskan pada koordinasi penanganan mahasiswa terdampak, penguatan kolaborasi antarkampus, peninjauan posko bantuan, serta penyaluran bantuan langsung di lokasi terdampak.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Khairul Munadi dalam kunjungannya ke Unand mengapresiasi langkah cepat kampus tersebut yang menjadikan lingkungan universitas sebagai ruang aman, pusat layanan, dan simpul solidaritas sosial.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Rektor Unand beserta seluruh jajaran yang bergerak cepat memastikan sivitas akademika, khususnya mahasiswa terdampak, tetap mendapatkan perhatian dan perlindungan. Unand juga hadir membantu masyarakat sekitar kampus dan wilayah terdampak langsung seperti Kabupaten Agam. Ini mencerminkan semangat Diktisaintek Berdampak, di mana kampus hadir dengan aksi nyata yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Khairul Munadi.
Pada kesempatan itu, Dirjen Dikti berdialog langsung dengan Rektor Unand, jajaran pimpinan universitas, dosen, serta mahasiswa terdampak. Rektor Unand Efa Yonnedi melaporkan sebanyak 827 sivitas akademika terdampak bencana, terdiri dari 626 mahasiswa, 40 dosen, 92 tenaga kependidikan, serta pegawai pendukung lainnya.
Efa Yonnedi menjelaskan, sejak hari pertama bencana terjadi, Unand langsung mengambil peran aktif dengan menjadikan kampus sebagai pusat tanggap darurat. Selain itu, pihak universitas memastikan kebutuhan mahasiswa dan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara cepat dan terkoordinasi.
“Pada masa tanggap darurat, kami menyediakan fasilitas asrama gratis bagi mahasiswa terdampak. Kami juga menyalurkan bantuan awal berupa voucher belanja untuk kebutuhan dasar, seperti perlengkapan tidur dan kebutuhan sehari-hari, agar mahasiswa dapat kembali beraktivitas di tempat pengungsian,” kata Efa.
Selain menyediakan tempat tinggal sementara, Unand juga mendirikan posko tanggap bencana sebagai pusat pengungsian dan distribusi logistik bagi sivitas akademika serta masyarakat terdampak.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah X Afdalisma menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pendataan perguruan tinggi dan sivitas akademika terdampak di Sumatera Barat dan Jambi. LLDikti juga menyalurkan bantuan hasil koordinasi dengan berbagai mitra.
“Kami melakukan pemetaan dan koordinasi agar setiap perguruan tinggi membentuk posko mandiri. Posko ini berfungsi mendistribusikan bantuan langsung kepada sivitas akademika dan masyarakat terdampak secara cepat dan merata,” ujar Afdalisma.
Ia menambahkan, LLDikti turut menyalurkan donasi dari berbagai sumber, baik mitra, dukungan internal, maupun partisipasi perguruan tinggi. Seluruh bantuan tersebut telah didistribusikan kepada masyarakat, sivitas akademika, dan perguruan tinggi terdampak.
Salah seorang mahasiswa Unand, Nazwa, yang terdampak banjir dan galodo, mengungkapkan bahwa bencana tersebut berdampak besar terhadap keberlangsungan aktivitas akademik. Ia kehilangan perlengkapan perkuliahan akibat kos yang terendam banjir.
“Saat kejadian saya berada di kampung halaman di Pariaman. Ketika kembali ke kos, kondisinya sudah rusak parah dan terendam lumpur setinggi lutut. Banyak barang tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.
Menurut Nazwa, dukungan kampus sangat berarti, terutama bantuan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan akademik menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), seperti buku, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya.
Usai dari Unand, rombongan Kemdiktisaintek melanjutkan kunjungan ke UPI YPTK Padang. Rektor UPI YPTK Muhammad Ridwan memaparkan berbagai upaya penanganan bencana yang dilakukan kampusnya sejak hari pertama kejadian.
“Sejak awal kami fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari makanan siap saji, layanan air bersih, hingga pendampingan psikologis. Sekitar 250 relawan, terdiri dari mahasiswa dan dosen, terlibat secara bergantian di berbagai lokasi terdampak,” jelas Ridwan.
UPI YPTK telah menyalurkan 13.232 porsi makanan siap saji, 130.000 liter air bersih, 10.512 botol air mineral, serta bantuan pangan dan kebutuhan pokok lainnya ke 15 lokasi terdampak di Kota Padang dan sekitarnya. Selain itu, kampus juga melakukan pembersihan lingkungan di 37 rumah warga dan fasilitas umum, mengerahkan alat berat untuk mengangkat lumpur pascabanjir, serta mengelola dua posko koordinasi bantuan.
Tak hanya itu, UPI YPTK juga menghadirkan program trauma healing dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi, praktisi, serta tokoh agama untuk membantu pemulihan psikologis anak-anak dan keluarga terdampak di lokasi pengungsian.
Kunjungan diakhiri dengan peninjauan posko bencana UPI YPTK untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif dan tepat sasaran. Rektor Ridwan menegaskan, korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga energi dan sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar, sehingga bantuan makanan bergizi menjadi prioritas utama.
Kemdiktisaintek menegaskan bahwa seluruh upaya penanganan bencana, mulai dari tanggap darurat hingga pemulihan, akan terus dilakukan secara kolaboratif. Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir sebagai simpul solidaritas, pusat layanan kemanusiaan, serta motor penggerak pemulihan sosial bagi masyarakat terdampak bencana. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar